Wednesday, June 18, 2014

Pantai Timur Malaysia

From Photo_2014
Saya dan rekan kerja saya - Toni melakukan kunjungan kerja ke Malaysia minggu lalu. Kunjungan kali ini adalah menghadiri HSE & Leadership workshop yang diadakan di Awana Hotel, Kijal, yang berlokasi di Pesisir Pantai Timur Malaysia. Perjalanan dari Jogja terasa panjang dan melelahkan, karena kami harus transit dua kali di Jakarta dan di Kuala Lumpur, pada dasarnya berangkat pagi dan datang malam. Dua hari workshop di kawasan hotel ini, bagi kami berdua sedikit membosankan maka pada hari pertama workshop, kami berjalan menyusuri pantai dibelakang hotel ini. Saya menyempatkan untuk mengambil beberapa jepret foto di pantai ini, kebetulan hari mulai mendung dan di sisi timur, muncul pelangi - tentu hal ini mengejutkan saya, gimana cara membidik pelangi, padahal baru minggu lalu saya membaca artikel tentang bagaimana membidik pelangi. Untung saja, lensa 24-70mm f/2.8 saya sudah terpasang filter CPL (Circular Polarizer), sebelum membidik saya coba memutar filter ini sampai maksimum agar warna pelangi terlihat lebih dalam warnanya, memang terlihat jelas perbedaan jika kita membidik tanpa polarizer.
From Photo_2014
Matahari sudah mulai condong ke barat, saat saya dan mas Toni harus kembali ke Hotel untuk makan malam bersama para anggota peserta workshop yang lain, melalui lapangan golf, saya mengambil beberapa bidikan di padang rumput golf ini, yang saat itu sedang disiram.
From Photo_2014
Mulai perjalanan dari Kuala Lumpur sampai pesisir pantai timur Malaysia ini, saya menyempatkan untuk merekam koordinat dan tracking dengan Garmin GPS dan saya coba untuk melihat track perjalanan tersebut diatas peta, bisa dilihat link dibawah ini:
Awana Journey 2014

Semoga bermanfaat,
Sad Agus & Toni Juritno
Wellsite Geologist Consultant

Monday, May 26, 2014

Garmin GPSmap 62s


From Photo_2014
Saya belum pernah menggunakan alat GPS (Global Positioning System), walaupun saya sudah ingin memiliki sejak dua tahun lalu dan baru saja saya bisa membelinya beberapa hari lalu di toko peralatan geologi di Jl. Kaliurang KM 8.5, Yogyakarta yaitu toko geologist. Toko ini menyediakan dari teodolite, kompas geologi, palu geologi, loupe dan peralatan geologi lapangan lainnya. Tentu saja saya senang melihat semua peralatan itu. Informasi ini toko ini saya dapatkan dari anak saya yang kebetulan sedang kuliah di Fakultas Geologi, salah satu Universitas di Yogyakarta.
From Photo_2014
Alasan saya memiliki GPS adalah karena anak saya membutuhkan untuk Kuliah Lapangan Geologi di Karangsambung di akhir tahun ini, lagipula saya sering hunting fotografi ke daerah-daerah pelosok diluar kota; jadi saya pikir alat ini banyak bermanfaat buat saya. Yang saya pilih adalah Garmin GPSmap 62s, karena tipe GPS ini sederhana dan sudah lebih dari cukup bagi keperluan saya. Setelah membuka box baru alat ini, saya membaca buku petunjuk terlebih dahulu, lalu membuka menu dan interface alat ini; cukup mudah dan memang perlu mencari-cari istilah GPS di internet. Satu hal lagi, yaitu bagaimana GPS ini dapat terhubung ke komputer. Software bawaan dari Garmin GPS ini adalah Basecamp, Mapinstall dan Map Manager; semua perangkat lunak ini dapat di download gratis lewat internet, mereka adalah:
Sebetulnya didalam memory alat ini sudah terpasang soft copy dari perangkat lunak, buku petunjuk dan peta dasar; sehingga pemilik nya bisa langsung menggunakan. Setelah cukup familiar dan belajar beberapa jam GPS ini maka saya coba menggunakan dan memanfaatkan alat ini dengan merencanakan perjalanan (route plan) di komputer dengan menggunakan Basecamp for Mac, setelah itu saya mentransfer rencana perjalanan itu ke GPS. Keesokan nya, saya langsung bisa mengeksekusi rencana perjalanan ini, dan secara otomatis Garmin GPS ini akan memberikan peringatan bunyi "beep" dan menunjukkan arah kemana yang akan kita tuju setiap kali kita menjumpai persimpangan atau titik perjalanan (waypoint) yang sudah kita buat dalam (route plan). Saya tidak akan banyak membahas bagaimana cara memakai GPS ini, tapi saya lebih tertarik berbagi tentang manfaat yang diberikan alat ini. Fitur lainnya adalah GPS ini mempunyai kompas digital, log tracking, slot memory micro SD card, 1.6 GB internal memory, body dan LCD terlihat tangguh dan kuat, antar muka menu yang mudah. Sumber tenaga batere ukuran AA sehingga mudah mendapatkan jika habis. Kembali dalam mencoba GPS ini, saya melakukan perjalanan ke Waduk Sermo, melalui jalur Wates, terus ke arah utara, memasuki perbukitan Kulonprogo, sampai mencapai desa Tosari, Samigaluh, dan menuju ke arah timur kembali ke rumah melalui desa Nanggulan dan Godean. Route perjalanan saya tersebut bisa dilihat di link ini: Kulonprogo Adventure Di Waduk Sermo, saya membuat beberapa bidikan foto dan di salah satu sungai di perbukitan Menoreh.
From Photo_2014
From Photo_2014
Saat ini, saya sedang mencari lokasi koordinat untuk obyek hunting foto disekitar kota Yogyakarta dan cara "geotagging" foto. Yang terpenting saya tidak perlu takut lagi kesasar…!


Tetap semangat…!
Sad Agus
Garmin GPSmap 62s user

Saturday, September 28, 2013

Dasar Penggunaan Log dalam Analisa Fasies

Blog ini saya tulis saat saya masih menikmati "days off" (waktu libur) saya, ditengah-tengah sayup-sayup musik dangdut sekitar dari tayangan layar tancep di kampung sebelah. Sementara itu, saya menyadari akan seringnya saya lupa akan dasar-dasar yang perlu saya pahami untuk analisa fasies. Kata-kata "analisa fasies", "interpretasi lingkungan pengendapan" dan "log motif" sering menakuti saya karena terdengar seperti sangat sulit dan jelimet. Maka saya coba baca-baca buku geologi dan laporan-laporan dari beberapa pekerjaan "Formation Evaluation Log" yang pernah saya buat. Baiklah saya mulai saja ya…
From Picasa blog
Apabila kita meneliti stratigrafi atau urutan vertikal dari umur-sumur pemboran, baik itu lithostratigrafi ataupun biostratigrafi yang dapat dikorelasikan; maka log dari sumur-sumur tersebut dapat digunakan untuk menentukan fasies dan interpretasi lingkungan pengendapan dari suatu batuan reservoir, meliputi Perkirakan bentuk geometri dan orientasi nya. Dari beberapa studi lingkungan pengendapan modern yang ada memperlihatkan adanya ciri-khas tertentu dari ukuran butir profil vertikal; sebagai contoh jika endapan channel seringkali menghalus keatas (fining upward), mulai dari bawah dengan endapan "basal" konglomerat menerus keatas menjadi pasir, lanau dan lempung. Sebaliknya, delta progradasi dan endapan "barrier island" sering-kali menunjukkan profil vertikal yang semakin kasar keatas (coarsening upward). Sehingga dari profil vertikal ukuran butir (grain size profile) dapat digunakan sebagai analisa fasies, yang mana ini dapat dilihat indikasi nya pada log SP dan/atau log Gamma Ray.
Log SP banyak dikontrol oleh sifat permeabelitas suatu batuan, dimana semakin permeabel akan mempunyai defleksi kekiri atau lebih kecil, dengan kata lain semakin permeabel maka ukuran butir semakin besar. Sama halnya juga dengan log Gamma Ray, dimana kandungan mineral lempung (yang kaya unsur radioaktif) dari suatu endapan menunjukkan adanya halusnya ukuran butir. Pengecualian dari hal ini adalah adanya endapan lempung dengan fragmen konglomerat atau hadirnya mineral radioaktif seperti Glauconite, Mica dan Zircon (Rider, 1990).
Bentuk motif log SP dan Gamma Ray, pada dasarnya dapat dibagi menjadi 3 bentuk dasar yaitu:

  1. Bell Motif (Motif Lonceng / Bel), yaitu endapan pasir yang menghalus keatas dengan bagian dasar yg tajam.
  2. Funnel Motif (Motif Corong), yaitu endapan pasir yang mengasar keatas dengan bentuk tajam diatas. 
  3. Blocky Motif (Motif blok), yaitu endapan pasir bersih dengan bagian tajam pada batas atas dan bawahnya.

Variasi dari ketiga pola tersebut bisa saja terlihat halus atau kasar dan tidak ada motif log yang baku untuk satu pengendapan tertentu, tapi dengan menggabungkan dari beberapa analisa profil log-log tersebut maka dapat dilakukan interpretasi lingkungan pengendapannya, tentunya dengan memperhatikan kandungan mineral Glauconite, shell debris, carbonaceous material dan mineral mica.
Mineral Glauconite terbentuk selama proses diagenesis awal dari suatu dengapan / sedimen laut dangkal (shallow marine), begitu mereka terbentuk maka akan bersifat stabil pada lingkungan tersebut, tapi dapat juga terbawa ke arah pantai atau kearah kipas-kipas laut dalam (deepsea fans). Bagaimanapun, adanya mineral Glauconite menandakan endapan dari lingkungan laut. Sedangkan shell-shell keras pada suatu endapan menandakan dari lingkungan dari air tawar atau air laut, tapi shell-shell yang berpasir atau berasosiasi pasir cenderung dari lingkungan air laut. Sebetulnya kita dapat lebih jauh meneliti fossil-fossil dari lingkungan laut dengan lebih jelas. Kandungan "carbonaceous" seperti Coal, fragmen tumbuhan dan kerogen, biasanya berasal dari lingkungan darat ataupun laut, namun begitu kandungan organik yang terawetkan biasanya menandakan pengendapan yang cepat, dengan adanya mineral-mineral "reworked" dan tanda-tanda oksidasi. Sama halnya, kehadiran mineral Mica menandakan pengendapan yang cepat baik lingkungan darat maupun lingkungan laut.
Keempat kandungan tersebut (Glauconite, Shell fragmen, Carbonaceous material, dan Mica) biasanya dicatat dalam deskripsi serbuk bor dalam suatu pemboran oleh seorang wellsite geologist. Dengan mempelajari beberapa motif-motif log dengan mempertimbangkan keempat kandungan yang sudah dibicarakan diatas, akan banyak sekali membantu dalam menganalisa dan meperkirakan bentuk geometri dan trend reservoir (Lihat gambar dibawah).

From Picasa blog

Sebetulnya teknik analisa ini diperkenalkan oleh Selley (1976). Idealnya analisa fasies didasarkan pada sedimentologi dan analisa core (inti batuan). Gambar dibawah ini menunjukkan integrasi dari beberapa log dan data batuan, sebetulnya contoh-contoh didalam endapan modern delta Mahakam sudah banyak sekali dipelajari oleh beberapa ahli geologi Indonesia ataupun perusahaan - perusahaan minyak dan gas bumi (Pertamina, Total, Chevron - dulu Unocal, dll).

From Picasa blog

From Picasa blog
Analisa fasies akan semakin mudah dilakukan jika profil ukuran butir digabungkan dengan gambaran struktur sedimen dari alat logging "image". Yang kemudian orientasi struktur sedimen, misalnya cross bedding dapat digunakan untuk menentukan arah arus purba dan tentu saja arah pelamparan lapisan reservoir.

Daftar Pustaka:

  • Elements of Petroleum Geology, Second Edition, (Richard C. Selley, 1998)
  • Geological Applications of Wireline Log (Hurst A, Lovell M, Moreton A C, 1990)


Semoga bermanfaat,
Sad Agus Wellsite Geologist Consultant
(Mendekati usia pensiun).
Akhir September, 2013.

Friday, August 30, 2013

Belajar AutoCAD

From AutoCAD_img
ite">AutoCAD_img Sudah satu bulan terakhir, saya tertarik dengan perangkat lunak CAD, tentu saja AutoCAD for Mac; karena saya memang biasa menjalankan komputer berbasis Mac. Mula-mula saya tertarik untuk menggambar drill bit dengan CorelDraw X4 dan beberapa bentuk 3 Dimensi peralatan pemboran dan anjungan pemboran minyak. Semua peralatan tersebut dengan mudah bisa saya lihat di lokasi pekerjaan. Ternyata menggambar object 3 Dimensi dengan program menggambar biasa seperti CorelDraw tidak mudah dan banyak mempunyai keterbatasan. Mestinya obyek 3 Dimensi digambar dengan perangkat lunak menggambar khusus yaitu CAD (Computer Aid Design). Sebelumnya saya pernah mencoba menggambar rencana pembangunan rumah saya dengan ArchiCAD, namun saya tidak meneruskan mempelajari perangkat lunak ini; karena kesibukan pekerjaan dan saya lebih tertarik menggambar dengan AutoCAD yang lebih banyak kebebasan dalam menggambar suatu obyek 3 Dimensi.
From AutoCAD_img

  • Hampir Putus Asa

Menjalankan perangkat lunak AutoCAD memang tidak mudah; terutama bagi kalangan awam yang tidak memahami "engineering" dan dasar-dasar komputer. Pengertian "coordinate", "Surface", "Solid", "Quadrant", "Axis", dan lain-lain - memang perlu dipahami sebelum masuk dan memulai menjalankan program. Walaupun saya sedikit memahami istilah dan hal-hal tersebut diatas, masih saja diperlukan kesabaran dan ketekunan luar biasa dalam mulai mencoba perangkat lunak ini. Karena saya suka dengan proses otodidag dalam belajar, maka saya coba memulai dengan menggambar sesuatu, yaitu 3 Dimesi anjungan pemboran…! Dan ini terlalu berlebihan - seperti obsesi. Rupanya langkah ini adalah kesalahan pertama saya, karena menggambar suatu anjungan pemboran sangatlah rumit dan tentu saja tidak mudah bagi saya yang masih pemula. Walaupun begitu, saya sempat menyelesaikan "sebagian" gambar itu dengan kesabaran yang hampir putus. Sambil mempelajari tutorial yang ada dan dari internet; maka sedikit demi sedikit menyadari kesalahan dan kekurangan. Saya juga mencoba mencatat semua hal-hal baru yang baru saya dapatkan, walaupun itu terlihat seperti hal yang sederhana.
  • Dari 2 Dimensi ke 3 Dimensi

Banyak para pengajar dan ahli dibidang CAD ini selalu mencontohkan gambar sederhana; kebanyakan mereka memberikan gambar contoh sebuah PINTU. Pertama kali, saya sama sekali tidak tertarik untuk menggambar daun pintu ini dan saya selalu melewatkan untuk membaca dan memperhatikan hal ini… Ternyata memberikan contoh sederhana adalah langkah awal untuk memberikan pengertian dasar tentang bagaimana menggambar 3 Dimensi dengan perangkat lunak CAD. Saya menyadari setelah beberapa kali lambat dalam memahami sistem koordinat dan sudut pandang obyek. Kemudian saya mencoba menggambar daun pintu seperti yang dianjurkan oleh para tutor tersebut. Akhirnya saya menyadari bahwa sebelum dapat menggambar 3 Dimensi, seharusnya kita dapat menggambar 2 Dimensi dan memahami cara menggambarnya, baik ukuran dan obyek-obyek yang membangunnya. Misal saja: sebuah pintu terdiri dari daun pintu dan handle tangan, tentu saja harus dipahami pula ukuran dan letak koordinat pintu tersebut.
From AutoCAD_img

  • Block & Gambar Utama

Akhirnya saya menyadari, contoh gambar pintu tersebut adalah contoh terbaik yang bisa saya pahami untuk menghasilkan suatu "goal" dalam menggambar obyek 3 Dimensi. Komponen dasar pintu seperti daun pintu, handle tangan adalah gambar-gambar kecil dan bisa kita gunakan berulang kali yang biasa disebut dengan "Block" di dalam AutoCAD. Suatu gambar 3 Dimensi yang rumit dan besar terdiri dari beberapa "Block", mungkin belasan, bahkan mungkin puluhan "Block"…! Bayangkan jika gambar suatu Stadion Olah Raga, atau Terminal Bus, Kereta Api, Airport, maka berapa banyak kursi penonton, penumpang yang harus digambar secara berulang jika tanpa "Block"?
  • Detil & Akurat
Menggambar komponen-komponen suatu gambar 3 Dimensi membutuhkan ketelitian dan ketekunan. Saya bahkan menggambar komponen-komponen tersebut dapat satu sampai dua hari, yang selanjutnya saya simpan sebagai "Block", sehingga saya bisa gunakan untuk gambar-gambar utama diwaktu mendatang. Saya mencoba biasa menggambar dan menggunakan koordinat, tujuan nya supaya akurat.
From AutoCAD_img
Satu kendala lain bagi saya adalah, mencoba memahami bentuk-bentuk rumit, baik ukuran dan letak obyek tersebut. Hal ini banyak menyita waktu saya sebelum memulai menggambar dibidang 2 Dimensi terlebih dahulu. AutoLISP yang masih "Gelap" Program AutoCAD dilengkapi dengan fitur AutoLISP yaitu suatu bahasa pemrograman kecil yang dapat dibuat oleh si pengguna untuk mempercepat dan mempermudah dalam menjalankan AutoCAD. Banyak para pengguna CAD tingkat lanjut yang mengatakan betapa efektif nya AutoLISP ini. Saya ingin sekali dapat mempelajari AutoLISP ini, tapi untuk sementara ini, saya masih berkutat dengan proses penggambaran 2 Dimensi dan 3 Dimensi yang masih mendasar.
From AutoCAD_img
Untuk beberapa waktu mendatang, saya harus menyelesaikan "project" pribadi saya yaitu menggambar 3 Dimensi Anjungan Pemboran Darat, sambil mempelajari proses dari perangkat lunak AutoCAD ini.

Semoga bermanfaat
Sad Agus
AutoCAD 2011 for Mac BASIC USER.

Saturday, November 19, 2011

Mengingat Tektonik Lempeng

Untuk mengisi waktu kosong, saya mencoba menggali dan mengingat kembali tentang teori Tektonik Lempeng. Terus terang, banyak yang terlupakan secara detil mengenai teori ini. Untuk saya coba untuk menggambar kembali dalam bentuk sketsa-sketsa sederhana, jadi mudah untuk mengingat nya lagi. Hal ini juga membuat saya sadar bahwa dalam bidang ilmu kebumian (Geoscience), gambar-gambar atau bentuk ilustrasi lainnya - merupakan alat ampuh untuk menjelaskan, sekaligus sangat efektif untuk memahami proses. Singkatnya, gambar dibawah dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana proses tektonik lempeng bekerja:

From Wellsite Geology Blog

Meskipun gambar ini menunjukkan hubungan interaksi antara lempeng benua dan lempeng samudra, umum nya proses ini dapat diterapkan juga antara dua lempeng samudra.

1. Ada dua jenis LITOSFER yaitu: litosfer benua dan litosfer samudra. Litosfer BENUA mempunyai berat jenis relatif ringan karena terbentuk dari mineralmineral ringan. Sedangkan litosfer SAMUDRA bersifat lebih padat dibandingkan litosfer benua karena terbentuk dari mineral-mineral berat. Suatu lempeng bisa saja terdiri dari litosfer samudra atau litosfer benua, tapi kebanyakan sebagian litosfer samudra dan sebagian litosfer benua.

2. Dibawah lempeng-lempeng litosfer tersebut terdapat ASTENOSFER, yaitu suatu lapisan mantel yang terdiri dari batuan padat liat. Karena lempeng bersifat lebih ringan dibandingkan dg Astenosfer yang berada dibawahnya, maka mereka mengapung diatas astenosfer.

3. Dengan semakin dalamnya pada bagian astenosfer maka semakin besar tekanan dan suhu, yg mengakibatkan batuan nya akan lebih bersifat lunak/ cair dan sebagian lebur. Semakin bersifat cair tapi batuan padat tersebut dapat mengalir perlahan dalam waktu geologi. Ketidak-stabilan suhu yg mencapai batas “inti” atau mantel, akan membentuk arus konveksi yg perlahan didalam astenosfer yang liat tersebut.

4.Setelah terbentuk, arus konveksi ini akan membawa material panas dari bagian yg lebih dalam ke bagian permukaan dari bagian mantel.

5. Naiknya mereka mendekati permukaan, menyebabkan adanya penerobosan arus konveksi pada bagian bawah litosfer. Penerobosan arus ini akan mendesak bagian yang lemah tekanannya atau “tertarik” ke bagian lempeng padat diatasnya. Tekanan dan aliran sangat panas semakin melemahkan dan memecahkan lempeng padat yang mengapung. Dua sisi lempeng yang terbelah akan bergerak saling menjauh, membentuk BATAS PEMISAHAN LEMPENG (DIVERGENT PLATE BOUNDARY).

6. Ruang antara lempeng yg terpisah diisi dengan magma pijar dari bawah. Kontak dengan air laut akan mendinginkan magma, yang dengan cepat
mengeras, membentuk litosfer samudera baru. Proses ini berkesinambungan dan berjalan selama jutaan tahun, membangun rantai gunung berapi
bawah laut dan lembah retakan disebut MID-OCEAN RIDGE (Rangkaian pegunungan tengah samudra atau rangkaian pegunungan pemisahan lempeng samudra.

7. Sebagai batuan cair baru akan terusmengalir pada MID-OCEAN RIDGE dan menumbuhkan lempeng samudera (6), bagian lempeng yang lebih tua (yg sebelumnya terbentuk) bergerak menjauh dari punggungan dimana ia awalnya berada.

8. Semakin jauh pergerakan lempeng samudra, akan semakin jauh dari rangkaian pemisahan yang panas dan aktif, secara berangsur akan mendingin. Lempeng yang paling dingin, akan semakin bersifat padat (“berat”). Akhirnya, tepi piring yang terjauh dari pegunungan dingin menyebar begitu banyak sehingga menjadi lebih padat dari astenosfer di bawahnya.

9. Sebagaimana kita ketahui, material yang lebih padat akan tenggelam dan hal inilah yang terjadi pada lempeng samudra - yang mulai tenggelam kedalam astenosfer. Dimana satu lempeng akan tenggelam dibawah lempeng lainnya membentuk “Zona Tumbukan” (Subduction zone).

From Wellsite Geology Blog

10. Bagian ujung depan lempeng samudra yang tenggelam akan “menarik” sisa bagian lempeng yang berada di belakangnya - bukti menunjukkan bahwa hal ini merupakan tenaga utama pendorong tumbukan. Parah ahli geologi tidak bisa memastikan sampai seberapa dalam lempeng samudra ini tenggelam sebelum mulai melebur dan mulai tidak berbentuk lempeng yang padat dan kaku, tapi kita juga tidak mengetahui apakah bentuknya tetap padat sampai kedalaman 100km dibawah permukaan bumi.

11. Zona Tumbukan (Subduction zones) adalah salah satu jenis dari BATAS PERTEMUAN LEMPENG (CONVERGENT PLATE BOUNDARY), yaitu jenis batas pertemuan lempeng yang terbentuk dimana dua lempeng bergerak saling mendekat. Perlu diingat, walaupun lempeng samudra dingin, juga tenggelam, walaupun dingin tapi lempeng benua yg padat dan lebih ringan mengapung bagaikan gabus yang mengapung diatas astenosfer.

12. Ketika tumbukan, lempeng samudra tenggelam di bawah permukaan bumi, suhu yang besar dan tekanan di kedalaman yang besar menyebabkan keluarnya cariran “keringat”. Cairan “keringat” ini dapat meresap ke atas dan mencairkan sebagian mantel diatasnya yg padat pada bagian atas lempeng yang menumbuk, akan membentuk kantong batu pijar (magma).

13. Mantel baru yang berbentuk batu pijar (magma) berbentuk kurang padat dibandingkan batuan sekitarnya, yang menyebabkan dapat mengalir ke
permukaan. Badan magma besar yang mendingin dan mengeras akan membentuk batuan plutonik besar (batuan beku intrusive) berada jauh dibawah permukaan bumi. Batuan intrusive besar ini dapat tersingkap di permukaan karena adanya erosi. biasanya berbentuk inti dari rangkaian deretan pegunungan besar (seperti Sierra Nevada, California atau Pegunungan Andes, Amerika Latin) yang terbentuk sepanjang zona tumbukan.

14. Sebagian batuan pijar tersebut dapat mencapai permukaan bumi dapat melepaskan gas bertekanan. Seiring dg keluarnya lava dan abu vulkanik yang mencapai permukaan akan terakumulasi - lapisan demi lapisan membentuk rangkaian gunung api dan dataran tinggi, seperti rangkaian gunung api di sepanjang kepulauan Indonesia dan datarang tinggi Bandung, Dieng di Indonesia, sungai Columbia di bagian barat laut Pasifi k, Amerika Serikat).

- Diambil dari website USGS di http://pubs.usgs.gov/gip/dynamic/understanding.html).
(Terjemahan bebas oleh: Sad Agus Praptiono - 82.1528-TG, UPN Veteran Yogyakarta)