Showing posts with label Tip. Show all posts
Showing posts with label Tip. Show all posts

Monday, May 26, 2014

Garmin GPSmap 62s


From Photo_2014
Saya belum pernah menggunakan alat GPS (Global Positioning System), walaupun saya sudah ingin memiliki sejak dua tahun lalu dan baru saja saya bisa membelinya beberapa hari lalu di toko peralatan geologi di Jl. Kaliurang KM 8.5, Yogyakarta yaitu toko geologist. Toko ini menyediakan dari teodolite, kompas geologi, palu geologi, loupe dan peralatan geologi lapangan lainnya. Tentu saja saya senang melihat semua peralatan itu. Informasi ini toko ini saya dapatkan dari anak saya yang kebetulan sedang kuliah di Fakultas Geologi, salah satu Universitas di Yogyakarta.
From Photo_2014
Alasan saya memiliki GPS adalah karena anak saya membutuhkan untuk Kuliah Lapangan Geologi di Karangsambung di akhir tahun ini, lagipula saya sering hunting fotografi ke daerah-daerah pelosok diluar kota; jadi saya pikir alat ini banyak bermanfaat buat saya. Yang saya pilih adalah Garmin GPSmap 62s, karena tipe GPS ini sederhana dan sudah lebih dari cukup bagi keperluan saya. Setelah membuka box baru alat ini, saya membaca buku petunjuk terlebih dahulu, lalu membuka menu dan interface alat ini; cukup mudah dan memang perlu mencari-cari istilah GPS di internet. Satu hal lagi, yaitu bagaimana GPS ini dapat terhubung ke komputer. Software bawaan dari Garmin GPS ini adalah Basecamp, Mapinstall dan Map Manager; semua perangkat lunak ini dapat di download gratis lewat internet, mereka adalah:
Sebetulnya didalam memory alat ini sudah terpasang soft copy dari perangkat lunak, buku petunjuk dan peta dasar; sehingga pemilik nya bisa langsung menggunakan. Setelah cukup familiar dan belajar beberapa jam GPS ini maka saya coba menggunakan dan memanfaatkan alat ini dengan merencanakan perjalanan (route plan) di komputer dengan menggunakan Basecamp for Mac, setelah itu saya mentransfer rencana perjalanan itu ke GPS. Keesokan nya, saya langsung bisa mengeksekusi rencana perjalanan ini, dan secara otomatis Garmin GPS ini akan memberikan peringatan bunyi "beep" dan menunjukkan arah kemana yang akan kita tuju setiap kali kita menjumpai persimpangan atau titik perjalanan (waypoint) yang sudah kita buat dalam (route plan). Saya tidak akan banyak membahas bagaimana cara memakai GPS ini, tapi saya lebih tertarik berbagi tentang manfaat yang diberikan alat ini. Fitur lainnya adalah GPS ini mempunyai kompas digital, log tracking, slot memory micro SD card, 1.6 GB internal memory, body dan LCD terlihat tangguh dan kuat, antar muka menu yang mudah. Sumber tenaga batere ukuran AA sehingga mudah mendapatkan jika habis. Kembali dalam mencoba GPS ini, saya melakukan perjalanan ke Waduk Sermo, melalui jalur Wates, terus ke arah utara, memasuki perbukitan Kulonprogo, sampai mencapai desa Tosari, Samigaluh, dan menuju ke arah timur kembali ke rumah melalui desa Nanggulan dan Godean. Route perjalanan saya tersebut bisa dilihat di link ini: Kulonprogo Adventure Di Waduk Sermo, saya membuat beberapa bidikan foto dan di salah satu sungai di perbukitan Menoreh.
From Photo_2014
From Photo_2014
Saat ini, saya sedang mencari lokasi koordinat untuk obyek hunting foto disekitar kota Yogyakarta dan cara "geotagging" foto. Yang terpenting saya tidak perlu takut lagi kesasar…!


Tetap semangat…!
Sad Agus
Garmin GPSmap 62s user

Sunday, August 1, 2010

Korelasi di Wellsite (2)

Dalam tulisan ini, saya akan menguraikan lebih detil tentang aplikasi korelasi dalam pengambilan keputusan dan menentukan kapan dan dimana (kedalaman) harus dihentikan pemboran suatu sumur untuk coring point, casing point atau landing point. Contoh yang saya uraikan disini adalah aplikasi untuk sumur miring berarah (directional well) dengan memakai LWD tool.
Tentu saja, seorang Wellsite Geologist harus sudah siap dengan beberapa perangkat korelasi dan 'mesin' hitungnya saat sebelum memasuki zona yang kritis tersebut. Apa-apa saja yang perlu disiapkan dan dihitung? Memang bagi seorang Wellsite Geologist yang berpengalaman di suatu daerah pekerjaan tertentu selalu mencirikan bed marker tertentu dalam mencirikan zona / formasi batuan tertentu; yang dimana ini tidak dimiliki oleh semua wellsite geologist. Untuk itu, akan lebih baik bagi seorang Wellsite Geologist untuk mempersiapkan semua data-data yang nantinya sebagai acuan dalam mengambil keputusan tersebut.

Tahapan pertama, yaitu menyiapkan lembar korelasi log TVD yang siap untuk di"update" setiap saat. Lembar ini berupa sebuah data log sumur terdekat (offset well log). Offset well log ini bisa berupa, log yang berisi satu track GR (Gamma Ray) atau ROP atau juga ditambah dengan beberapa track lagi; seperti Resistivity atau Porosity ataupun Total Gas / Chromatograph gas. Log ini sudah disiapkan dengan garis-garis batas top formasi atau marker, yang nantinya akan dikorelasikan dengan log sumur yang sedang dibor (actual current well log). Di offset well log ini, jangan lupa untuk memberi tanda khusus STOP POINT (SP), misalnya dengan panah merah dimana berhentinya posisi kedalaman coring point atau casing point tersebut. Sedangkan disampingnya ditempatkan, actual well log dengan sudah ada korelasi dengan offset well pada zona-zona bagian atasnya sebelum memasuki zona kritis tersebut.
From Blog

Tahapan kedua, yaitu menyiapkan lembar tabel perhitungan; akan lebih efektif jika lembar perhitungan ini dibuat dalam format MS Excel, sehingga perhitungan bisa didapatkan secara otomatis. Untuk mendapatkan format perhitungan tersebut silahkan download di web saya (link ini). Data yang diperlukan adalah
- Tool offset bit distance, adalah jarak sensor LWD yang terdekat dengan bit, ambil contoh saja sensor GR adalah sensor yg terdekat dengan bit dan mempunyai jarak 15 meter dari bit. Maka perlu dimengerti dan disadari bahwa drill bit akan menembus 15 m MD (measured depth) LEBIH DALAM dari apa yang terlihat dan terekam pada GR LWD; saya menyebutnya sebagai "Blind Interval" (interval buta).
  1. Pada offset well, hitung jarak TVD dari bed marker / formation top terakhir ke STOP POINT, sebagai contoh bed marker terakhir mempunyai kedalaman 1208m TVDSS dan STOP POINT pada 1237m TVD, jadi jarak TVDnya adalah 1237 - 1208 = 29m TVD. Konversikan jarak 29m TVD tersebut ke jarak MD - bisa dengan rumus sederhana yaitu MD = TVD/cos (a); dimana (a) adalah sudut kemiringan (dip survey) lubang sumur; misalkan hasilnya adalah 32m MD, maka jarak inilah yang merupakan patokan batas bagi kita untuk menentukan SP (Stop Point). Jadi secara teoritis bed marker akan terlihat dan bisa diamati dengan GR yang terekam langsung (LWD GR realtime). Karena jarak ini masih lebih besar dari "Blind Interval" diatas.
  2. From Blog
  3. Pada current well, amati drilling parameter atau data LWD yang terekam saat memasuki bed marker. Catatlah kedalamannya, jika kedalaman masih dalam bentuk MD (measured depth); konversikan ke TVD tersebut, misalnya diketahui bed marker pada 1400m TVD (lihat gambar), maka dapat diperkirakan SP (Stop Point) yaitu 1400 + 29 = 1429m TVD. Konversikan kedalaman TVD ini ke MD (measured depth) untuk memberikan informasi kepada Drilling Supervisor; karena biasanya mereka terbiasa dengan kedalaman miring terukur (measured depth).
  4. From Blog
  5. Final Analysis, adalah analisa terakhir sebelum kita betul-betul memutuskan tempat "Stop point" ini adalah dengan mengamati dan mendeskripsikan dari 'drill cutting sample' kedalaman terakhir serta mengamati pembacaan gas. Analisa dan perhatikan dari data terakhir tersebut dan periksa kembali lembar korelasi, tabel perhitungan. Setelah itu, yakinlah bahwa keputusan yang diambil sudah baik dan tepat. Sajikan hasil-hasil korelasi dan perhitungan kepada Drilling Supervisor di rig, kemudian kirimkan kepada Operation Geologist di kantor anda sebagai lampiran (attachment) email anda.


Semoga bermanfaat,
Sad Agus Praptiono
Wellsite Geologist Consultant

Saturday, July 31, 2010

Korelasi di Wellsite (1)

Tentang Korelasi Sumur
Ini adalah bagian pertama dari dua tulisan mengenai korelasi di wellsite. Untuk bagian yang lebih detil saya tulis dalam tulisan yang kedua.
Salah satu aspek terpenting yang dikerjakan oleh seorang Wellsite Geologist adalah mengetahui gambaran geologi bawah permukaan (subsurface) pada sumur yang sedang dibor. Dalam hal kaitannya dengan korelasi sumur, maka disini akan berbagi sedikit pengalaman dan tip dalam melakukan korelasi antar sumur saat pemboran berlangsung.
Korelasi dalam pengertian disini adalah mengkorelasikan suatu bed marker, formation top atau lapisan penciri lainnya yang dapat dihubungkan dengan suatu garis secara horizontal yang berupa gambar-gambar / data-data dari suatu log (LWD, Wireline, Mud Log, Lithology log dll).  Adapun yang saya uraikan disini yaitu jika kita tidak mempunyai perangkat lunak khusus untuk geologi; jadi disini saya akan menggunakan software yang sehari-hari kita pergunakan yaitu Excel, Powerpoint ataupun word - yang terpenting dari semua perangkat lunak itu tersedia "drawing tool" untuk menggambar garis, simbol sederhana serta dapat mengetikkan text dan tabel.
Dibawah ini saya perlihatkan korelasi detil dari dua sumur ada contoh lain dengan sumur yang lebih banyak, perlu diingat setiap korelasi harus mempunyai patokan satu garis horizon.
From Blog



Sebelum menginjak marilah kita sedikit menengok tentang apa dan mengapa korelasi antar sumur dilakukan, hal-hal apa yang perlu dipenuhi sebelum melakukan korelasi. Ada beberapa kaidah dan ketentuan dalam sebuah korelasi yang harus dipenuhi agar korelasi tersebut tidak membingungkan dan betul secara geologi, antara lain:
  1. Skala yang sama: Setiap data sumur dalam bentuk log harus mempunyai skala vertikal yang sama. Hal ini untuk mencegah kesalahan perhitungan dalam perkiraan ketebalan semu (apparent thickness) dari suatu lapisan atau jarak dari formation top satu dengan yg lain.
  2. TVD log: Log sumur yang digunakan dalam korelasi harus berdasar pada kedalaman vertikal TVD atau TVDSS. Hal ini ditujukan agar gambaran bawah permukaan dan perhitungannya tidak salah dan sesuai dengan peta penyebaran kedalaman (Isopach).
  3. Satu Horizon flat: Dalam satu panel korelasi sebaiknya menggunakan satu garis horizon yang terikat pada salah satu formation top atau marker yang jelas, agar memudahkan bagi seorang geologist melakukan analisa korelasi di sequence bawah atau atas horizon tersebut.
  4. Formation Top TVD: Sumur-sumur yang dihubungkan dalam korelasi harus mempunyai kedalaman vertikal Formation top atau marker yang akan dihubungkan. Jika hanya diketahui Measured Depth (MD) dari sumur yg deviated, maka harus dihitung TVD / TVDSS nya berdasar dari deviational survey yang ada.
  5. Tegak lurus Struktur Geologi: Walaupun ini tidak harus dilakukan, biasanya korelasi dibuat berdasar dari lokasi-lokasi sumur dalam satu lintasan penampang melintang yg tegak lurus dengan struktur geologi bawah permukaan. Misalnya memotong suatu poros antiklin atau memotong tegak lurus dari suatu patahan. Agar korelasi memberikan gambaran bawah permukaan yang lebih jelas.

Adapun persiapan yang perlu dilakukan sebelum anda melakukan korelasi di wellsite, yaitu Data sumur dan perangkat lunaknya. Pastikan anda mempunyai data-data offset well (sumur terdekat); akan lebih baik jika jumlahnya lebih dari satu sehingga korelasi yang didapat saat drilling akan lebih akurat dan reliable atau representatif. Data-data ini yaitu berupa gambar log dengan kedalaman TVD atau TVDss berbentuk PDF, tabel list formation top setiap sumur. Perangkat lunak atau software; bisa Excel, Powerpoint ataupun Word.

Teknik Korelasi
Bukalah satu dokumen atau file kosong yg baru, dalam hal ini saya menggunakan MS Excel. Di lain program, bukalah file log dalam bentuk PDF. Lakukan peng copy an gambar log dengan select > Tool > Screen snapshot , tariklah mouse pada kotak yang akan anda copy log tersebut. Setelah meng copy nya didalam clipboard, kembali ke program Excel file yang kosong > paste kan dengan CTRL-V atau Edit > Paste; maka gambar log offset well tadi sudah masuk. Lakukan hal yang sama pada sumur yang lain dan sumur yang aktif (current well). Buatlah satu garis horizon untuk menghubungkan salah satu bed marker atau formation top yaitu dengan menggambar satu garis horizontal dan menaik-turunkan masing-masing gambar log sumur.

Bila perlu tambahkan beberapa tabel perhitungan yang berguna untuk menghitung "Landing Point", "Casing Point" atau "Coring Point"; seperti gambar contoh diatas. Korelasi di wellsite sangatlah berguna dan perlu dilakukan oleh seorang wellsite geologist. Selain memberikan gambaran yang lebih jelas tentang keadaan bawah permukaan (subsurface), korelasi juga berguna untuk memperkirakan formasi batuan yang akan ditembus oleh drill bit berdasarkan dari data-data sumur sekitar. Pengetahuan tentang struktur geologi bawah permukaan daerah yang sedang dibor juga diperlukan, guna untuk memperkirakan adanya anomali-anomali seperti penebalan, penipisan, hilangnya satu lapisan akibat sesar atau patahan batuan (fault).

Insya Allah, dalam tulisan yang akan datang saya dapat memberikan satu contoh kasus sederhana mengenai bagaimana aplikasi korelasi ini untuk penentuan coring point atau landing point dalam operasi pemboran horizontal well.

Semoga bermanfaat,
Sad Agus
Wellsite Geologist

Tuesday, July 20, 2010

Persiapan sebelum ke Well Site

Tulisan dibawah ini hanyalah sekelumit cerita untuk berbagi kepada semua bahwa PERSIAPAN adalah tahapan yang penting bagi siapa saja dalam pekerjaan apa saja.

Kontrak Kerja
Setelah 'mengejar' dan mencari lapangan pekerjaan melalui email dan menjelajah ratusan website beberapa bulan. Akhirnya beberapa tawaran untuk menjadi wellsite geologist datang juga; sebetulnya tawaran datang dari beberapa negara tetangga, hanya saja tawaran yg terakhir ini tampak menarik - disebabkan saya akan bekerja dengan teman lama saya dari Australia dan saya sangat senang dia 'mengajak' saya untuk mengerjakan proyek pemboran di negara tetangga. Alhamdulillah.

Setelah menunggu beberapa hari, salah satu perusahaan jasa konsultan kerja dari Singapore menghubungi saya via handphone saya. Saat itu dia langsung menanyakan nilai daily rate (upah harian) yang diinginkan, segera hal itu sudah saya tanggapi baik secara lisan maupun email.

Dua minggu setelah itu terjadi 'tawar menawar' upah harian saya, disinilah sering terjadi perang bathin dalam diri seorang geologist - sebagai pekerja lepas (freelance) yang masih baru; lain halnya dengan seorang geologist yg berpengalaman yg mengerti akan kondisi 'pasar'. Maka hal ini akan mudah dilalui dalam proses negosiasi. Akhirnya kesepakatan dapat dicapai; yang perlu disadari dari pihak seorang tenaga konsultan geologist bahwa tidak akan pernah tercapai upah harian yang diinginkan, selain memberikan toleransi dengan batas harga 'upah harian' (daily rate) yg sudah kita ketahui diluar.

Kontrak kerja dalam bentuk draft dikirimkan via email, dengan sedikit koreksi dari saya; akhirnya saya menanda-tangani kontrak kerja tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sebelum menanda-tangani kontrak kerja:
  1. Teliti dan Paham: Bacalah sungguh-sungguh dan perlahan tentang kontrak kerja, jika dalam bahasa Inggris - cobalah dengan menerjemahkan, bahkan jika perlu bukalah kamus. Sampai kita betul-betul paham dalam setiap pasal-pasal aturannya. 
  2. Pajak: Upah yang dibayarkan nantinya, harus jelas untuk pembayaran pajaknya - maksudnya siapakah yang akan membayar pajak upah tersebut? Anda atau perusahaan yg melaksanakan pekerjaan atau perusahaan jasa penyedia tenaga kerja? Biasanya untuk kontrak kerja pekerja ahli geologi dengan upah harian, pajak akan ditanggung oleh klien atau pihak perusahaan yang melaksanakan pekerjaan dalam hal ini adalah perusahaan minyak (Oil Company). 
  3. Travel Expense: Banyak yang menganggap biaya transportasi dan akomodasi ini adalah hal sepele, padahal jika diperhatikan tidak sedikit biaya yang dikeluarkan dan ini tergantung dari lokasi tempat pekerjaan itu. Saya pernah mendapat 'pelajaran' penting dari mantan supervisor saya; ketika dia dengan tekunnya mengisi travel expense form dengan teliti, bahkan melakukan check berulang-kali; padahal konon kabarnya gajinya sudah 'tinggi' sekali. Kemudian saya tanyakan: "Khoq expense yg kecil gitu diurusin sih? khan kamu gajinya udah banyak?" Dia hanya berseloroh: "Ini adalah salah satu hak saya dan ini merupakan bagian pekerjaan saya, jadi saya harus menyelesaikan nya dengan baik." 
  4. Periode: Perhatikan juga kapan kontrak dimulai dan kapan berakhir. Penting untuk mempertimbangkan lamanya pekerjaan yang akan dilakukan. Beberapa rekan-rekan wellsite geologist - ada yang mempertimbangkan dengan waktu-waktu liburan atau hari-hari yg berhubungan dengan lebaran atau hari natal atau hari keagamaan lainnya. Bahkan ada juga yg mempertimbangkan dengan acara kegiatan yg lebih pribadi. 
  5. Segera! Tanda tangani kontrak kerja tersebut segera dan kirimkan kembali kepada perusahaan / pihak pembuat kontrak. Jangan terlalu lama berada didalam 'inbox' email anda. Tanyakan segera jika memang ada yang belum jelas. Ingat...! Bisa saja kita kehilangan kesempatan kerja dengan lambatnya proses ini.
Persiapan Teknis
Proses selanjutnya adalah sebagai konsultan yang profesional; seharusnya lebih pro aktif, yaitu dengan menanyakan beberapa data teknis dan persiapan kepada pihak perusahaan, misalnya:
Presentasi Log salah satu perangkat lunak.
  1. Data-data sumur pemboran sekitar (Offset wells) bisa didapat untuk dipelajari; data - data bisa berupa laporan geologi, composite log, laporan inti batuan (core report), analisa petrophysic, lithology log, mud log dan log-log lainnya. 
  2. Laporan rencana pemboran (Drilling Proposal, Geotechnical Proposal) yang mencakup prediksi secara geologi misalnya formasi-formasi batuan yang akan dibor, target formasi batuan yang dituju, sampai kedalaman akhir (TD - Total Depth) yang akan dicapai. Kendala-kendala yang mungkin akan dihadapi, misalnya lost circulation, shallow gas, overpressure zone dll. 
  3. Reporting system - Tanyakan kepada supervisor anda dalam hal ini Operation Geologist, bagaimana bentuk laporan harian, mingguan, akhir sumur yang akan diinginkan. Biasanya dalam bentuk word document. Mintalah format nya dan persiapkan. 
  4. Geology Log Software - Kebanyakan perusahaan minyak yang besar merupakan pemakai perangkat lunak geology untuk operasi pemboran. Jadi tanyakan hal ini dan yakinkan anda dapat melakukan pekerjaan dengan alat bantu tersebut. Jika memang terjadi kesulitan, mintalah waktu untuk mempelajari nya sebelum berangkat ke lapangan anjungan pemboran. 
  5. PLUS Value - Ada pengalaman berharga yang saya dapat, yaitu jika kita mempunyai kemampuan dan menguasai untuk menjalankan suatu software baik itu untuk membuat laporan geologi atau log-log geologi. Segeralah manfaatkan alat bantu tersebut, masukkan data-data yang sudah ada dalam software, persiapkan semua format yang mungkin nanti dibutuhkan misalnya: Plot Actual VS Prognosis, Composite Log, Daily Geological Report, Lithology & Oil show description database, Correlation panel, Wireline Summary Report, MDT Report dll. Sehingga jika saatnya datang, format-format tersebut sudah siap untuk di eksekusi dan anda tidak perlu atau tidak ingin 'overload' saat di well site. 

Non Teknis
Hal - hal non teknis yang saya uraikan dibawah ini, bukanlah hal yang krusial atau sangat penting; tapi tetap sebagai suatu tahapan yang kita lalui, yaitu antara lain: persiapkan semua peralatan yang perlu dibawa dan wajib dibawa, misalnya anda perlu mengutamakan baju coverall, safety shoes, safety hat, seperangkat laptop pribadi, peralatan tulis, kalkulator, hard drive, thumb / pen drive dan barang pribadi lainnya, misalnya buku bacaan, kamera foto, MP3 player; atau hal-hal yang dapat membunuh kebosanan.

Pastikan waktu keberangkatan dan ticket penerbangan dengan pihak perusahaan. Bangunlah lebih awal saat keberangkatan dan periksa sekali lagi semua barang yang sudah disiapkan; jika perlu buat check list untuk menghemat 'memory' otak anda. Ingatlah bahwa "Persiapan dan latihan akan mendatangkan bakat tersendiri"

Semoga bermanfaat.

Salam,
Sad Agus
http://sadagus.com

Thursday, March 11, 2010

Syarat menjadi Wellsite Geologist

"Bagaimana caranya jadi Wellsite Geologist?" adalah pertanyaan yg beberapa kali terlontar dari adik-adik baik yg masih di bangku kuliah maupun yg sudah lulus dan bekerja di perusahaan jasa bidang perminyakan. Tentunya ditujukan kepada kakak-kakak senior yg dipandang sudah mapan dan menyandang sebagai "Wellsite Geologist" (WSG) di industri perminyakan dan gas bumi maupun dibidang industri lainnya seperti Geothermal, Mining atau lainnya.

Blow Out Preventer (BOP)
Memang betul, untuk menjadi seorang WSG itu gampang-gampang susah (ini kata beberapa kolega dan kakak senior yg sudah mapan), gampangnya: yg pasti ilmunya bisa dipelajari dan yang susah: adalah kesempatan yang ada. Tapi paling tidak ada koridor-koridor yang merupakan syarat untuk menjadi seorang WSG.
Pahat Bor (Drill Bit) jenis "rock bit".

Nah, disini saya kembali berbagi pengalaman saja apa saja SYARAT DASAR untuk menjadi seorang Wellsite Geologist di industri perminyakan dan gas bumi, antara lain:
  1. Lulusan Geologi: biasanya tingkat S1 (Sarjana) saja yg jadi WSG, kalau sudah S2 biasanya orang Indonesia lebih tidak memilih pekerjaan ini. Ini tidak berlaku buat orang-orang dari luar negeri, misalnya warga Malaysia, India, Filipina, Timur Tengah atau warga Eropa atau Amerika. Banyak WSG yg datang dari kalangan S2 (pasca Sarjana). Bahkan saya pernah ketemu seorang WSG dari India yang sudah S3.
  2. Background drilling operation & knowledge: yaitu harus mempunyai dasar pengetahuan tentang jalannya dari suatu operasi pemboran baik eksplorasi (pencarian) maupun eksploitasi (pengembangan) baik di anjungan darat maupun lepas pantai (onshore & offshore). Yang kebanyakan ini datang dari para pekerja lapangan (field engineer) perusahaan jasa perminyakan (service company). Jadi sudah cukup familiar proses pemboran dari mulai awal (spud) sampai dengan akhir, seperti: TD, rig moving, cementing, well kick dll)
  3. Background logging operation & knowledge: yaitu dasar pengetahuan pengambilan data-data sumur seperti mud logging, wireline logging dan logging lainnya. Sehingga seorang WSG itu sudah pernah mendapat kursus-kursus bersertifikasi dan menguasai teknik-teknik seperti basic mud logging, wireline logging interpretation, formation evaluation, pressure formation evaluation. Dengan ini, maka diharapkan seorang WSG dapat memberikan masukan dari sisi 'Geological' dalam suatu operasi pemboran minyak & gas bumi. 
  4. Berbadan sehat: ini menyangkut kesehatan jasmani dan rohani (jangan ketawa ya... ini beneran lho). Jasmani bukan berarti kuat (dalam arti tenaga) tapi cukup mampu melek matanya - yang kadang dibutuhkan ketahanan fisik, contohnya karena harus menjadi wakil perusahaan untuk menyaksikan (witness) dalam suatu operasi wireline logging; yang kadang membutuhkan waktu lebih dari 24 jam tanpa tidur (ini yang sering dilakukan para senior yg 'single fighter') ataupun kegiatan operasi lainnya dalam jangka waktu relatif lama. Terkadang baru tidur sebentar sudah dibangunkan karena situasi 'critical' dan membutuhkan WSG sebagai bahan pertimbangan keputusan di lapangan. Kalau secara rohani, saya menghubungkannya dengan tenaga WSG kebanyakan harus bekerja di anjungan pemboran lebih dari 2 minggu. Malah ada yg 4 minggu tanpa melihat keramaian kota atau bertemu keluarga - Hal inilah yg membutuhkan ketahanan mental sehingga tidak cepat 'stress', belum lagi tekanan - tekanan psikologi saat pengambilan keputusan pada 'coring job' atau 'casing point', formation top atau TD dll.
  5. Survival Training: Pelatihan untuk penyelamatan diri dari keadaan darurat harus dilalui oleh seorang WSG. Pelatihan ini sifatnya resmi dan bersertifikasi; di negara kita sudah ada beberapa perusahaan yang sudah melaksanakan ini (Maaf, saya lupa namanya dan lokasinya). Di dalam pelatihan ini, para peserta dilatih untuk menyelamatkan diri saat kebakaran, bagaimana menggunakan pelampung, menyelamatkan diri saat helikopter jatuh (tentunya dengan alat simulasi), baik secara teori (indoor) maupun praktek (outdoor).
  6. Basic Computer & Geology Software: Pesatnya kemajuan teknologi TI, kerapkali WSG harus mempunyai kemampuan untuk menjalankan perangkat lunak, pastinya yg mendasar misalnya aplikasi 'Office' seperti Word, Excel, dll bahkan e-mail dan internet. Bahkan beberapa perusahaan minyak sering mengharuskan para WSG untuk bisa menjalankan perangkat lunak aplikasi geologi tertentu.
Itulah sekelumit pengetahuan yang bisa saya bagi buat rekan-rekan pembaca. Saran dan kritik bisa kirimkan ke email saya.

Salam,
Sad Agus di Pamulang.