Saturday, May 14, 2011

DGR (Daily Geological Report)

Kali ini, Aku sengaja mau bahas salah satu laporan yang tiap hari dikerjakan sama seorang wellsite geologist selama operasi pemboran berjalan; alasannya, karena hal ini sifatnya mendasar dan wajib dilaporkan oleh  seorang wellsite geologist yang berada di anjungan pemboran mulai spud well sampai TD well. Dari laporan inilah seorang operation geologist, dapat mengumpulkan data pemboran untuk pembuatan laporan akhir sumur (End of well report); selain ada sumber data lainnya.
From Picasa blog

DGR pada dasarnya dapat dibagi menjadi beberapa bagian (section) yaitu mencakup (1) Well information, (2) Drilling & geology operation, (3) Drilling data (Drilling & Fluid Parameter, Directional Survey data), (4) Geology information (Lithology Section, Gas data, Oil Show, Preliminary Formation Tops) dan (5) Remarks.


1. Well Information
Pada bagian ini akan mencantumkan informasi sumur baik yg sifatnya umum maupun khusus, yg terpenting adalah:

  • Report No, Date
  • Well Name
  • Field Name
  • Location
  • Latitude & Longitude (Northing & Easting0
  • Well Status
  • Rig Name
  • Current Depth (06:00 am)
  • Previous depth & Midnight Depth
  • RKB Elevation
Adapun jika ada tambahan lain pada bagian ini boleh2 saja dicantumkan, seperti mungkin AFE number, TD Lithology, dan lain-lain.

2. Drilling & Geology Operation
Bagian ini merupakan bagian yg menceritakan kegiatan operasi pemboran dalam 24 jam terakhir, banyak istilah / singkatan yang dituangkan dalam isinya, seperti POOH (Pull out of hole), RIH (Run in hole), P/U (Pick up), R/D (rig down), R/U (rig up), MW (Mud Weight) dan banyak lagi lainnya, dimana istilah-istilah ini semua umumnya sudah dipahami oleh para pekerja di bidang pemboran minyak. Operasi pemboran yg berjalan dalam 24 jam terakhir, ditulis dalam bagian ini berikut dengan periode waktu detailnya, misalnya: 07:30 - 08:15 - MWD tool surface test, OK. Adapula beberapa operation geologist tidak menginginkan detail waktunya, melainkan hanya urutan operasi nya saja. Jadi komponen dari bagian ini adalah sbb:
  • Operation Summary Last 24 hrs (00:00 - 24:00) - yaitu laporan detail operasi pemboran selama 24 jam terakhir mulai dari tengah malam kemarin sampai tengah malam hari ini.
  • Operation Summary last 6 hrs (00:00 - 06:00) - yaitu laporan detail operasi pemboran selama 6 jam terkahir dimulai dari tengah malam sampai jam enam pagi (DGR ini dikirimkan).
Tanggung jawab seorang wellsite geologist adalah melakukan check lagi dan menyesuaikan isi bagian laporan ini dengan laporan dari drilling supervisor (company man); sehingga tidak terjadi perbedaan yg pokok dari departemen pemboran (drilling dept) dg departemen geologi (G & G dept).

3. Drilling Data
Drilling data adalah bagian yg tidak terpisahkan dalam DGR, hanya saja dibagian ini sebetulnya adalah ringkasan data pemboran yang ada saat pemboran berjalan, data - data ini meliputi:
  • Drilling Parameter: WOB, RPM, Pump Rate (GPM), SPP, ROP average.
  • Drilling fluid (mud) data: MW, VIS, Filtrate, pH, PV/YP, Cl.
  • Directional Survey data: MD, Inclination, Azimuth, TVD RT, TVD SS, Northing, Easting, DLS.
Data-data dan parameter diatas bisa saja dimodifikasi menyesuaikan kebutuhan dari seorang operation geologist, jadi wellsite geologist dapat mengisi bagian ini berdasarkan informasi dari seorang mud logger, mud engineer dan MWD surveyor atau Directional Driller. Tanggung jawab seorang wellsite geologist adalah melakukan check ulang data-data ini, apakah sudah benar dan sesuai? adakah kesalahan ketik? adakah salah perhitungan?
4. Geology Information
Geology information adalah bagian laporan yg terpenting dalam suatu DGR (daily geological report), karena dibagian inilah dapat dilihat / dinilai kwalitas seorang wellsite geologist. Bagian ini merupakan ringkasan geologi dari suatu sumur yang sudah dibor. Informasi yang dituangkan adalah:
  • Lithology Description: yaitu bagian pemisahan interval kedalaman lithology berdasarkan dari formasi batuan yang dominan, misalnya bagian Sandstone yg sisipan Shale, Coal, dilengkapi dengan dengan deskripsi detail satuan batuan nya. Pemisahan interval ini, bisa juga dilihat dari background gas nya.
  • Gas Peaks: yaitu data pembacaan gas peaks saat drilling, baik itu drill gas, connection gas, swap gas disertai dengan background gas nya. Data gas yang ditampilkan yaitu terdiri dari pembacaan Total Gas, Chromatograph, CO2, H2S dan lithology pada kedalaman tertentu.
  • Oil Shows: yaitu deskripsi oil shows hasil pengamatan dari drill cutting dibawah pengamatan UV box pada interval kedalaman tertentu.
  • Preliminary Formation Tops: adalah hasil interpretasi formation tops atau marker pada lithology log, mud log, gas log, yang dikorelasikan dengan data offset wells. Data yang ditampilkan haruslah sudah dihitung dengan kedalaman actual TVDSS, sehingga dapat dibandingkan dengan kedalaman proposed TVDSS. Tiap formation tops dapat diberi catatan alasan kenapa ditarik formation tops tersebut.
5. Remarks
Banyak para wellsite geologist yang mengabaikan bagian remarks ini, walaupun banyak yang dapat dicantumkan dalam bagian remarks ini, misalnya saja pada kedalaman berapa saja spot sample telah diambil, adanya hal-hal yang perlu dijelaskan yang tidak dapat dicantumkan dalam bagian diatas.
From Picasa blog
Itulah sedikit catatan dan tambahan tentang apa yang perlu dilakukan oleh seorang wellsite geologist, mudah-mudahan bermanfaat.

Salam,
Sad Agus
Wellsite Geologist Consultant
Jakarta, Indonesia

Sunday, August 1, 2010

Korelasi di Wellsite (2)

Dalam tulisan ini, saya akan menguraikan lebih detil tentang aplikasi korelasi dalam pengambilan keputusan dan menentukan kapan dan dimana (kedalaman) harus dihentikan pemboran suatu sumur untuk coring point, casing point atau landing point. Contoh yang saya uraikan disini adalah aplikasi untuk sumur miring berarah (directional well) dengan memakai LWD tool.
Tentu saja, seorang Wellsite Geologist harus sudah siap dengan beberapa perangkat korelasi dan 'mesin' hitungnya saat sebelum memasuki zona yang kritis tersebut. Apa-apa saja yang perlu disiapkan dan dihitung? Memang bagi seorang Wellsite Geologist yang berpengalaman di suatu daerah pekerjaan tertentu selalu mencirikan bed marker tertentu dalam mencirikan zona / formasi batuan tertentu; yang dimana ini tidak dimiliki oleh semua wellsite geologist. Untuk itu, akan lebih baik bagi seorang Wellsite Geologist untuk mempersiapkan semua data-data yang nantinya sebagai acuan dalam mengambil keputusan tersebut.

Tahapan pertama, yaitu menyiapkan lembar korelasi log TVD yang siap untuk di"update" setiap saat. Lembar ini berupa sebuah data log sumur terdekat (offset well log). Offset well log ini bisa berupa, log yang berisi satu track GR (Gamma Ray) atau ROP atau juga ditambah dengan beberapa track lagi; seperti Resistivity atau Porosity ataupun Total Gas / Chromatograph gas. Log ini sudah disiapkan dengan garis-garis batas top formasi atau marker, yang nantinya akan dikorelasikan dengan log sumur yang sedang dibor (actual current well log). Di offset well log ini, jangan lupa untuk memberi tanda khusus STOP POINT (SP), misalnya dengan panah merah dimana berhentinya posisi kedalaman coring point atau casing point tersebut. Sedangkan disampingnya ditempatkan, actual well log dengan sudah ada korelasi dengan offset well pada zona-zona bagian atasnya sebelum memasuki zona kritis tersebut.
From Blog

Tahapan kedua, yaitu menyiapkan lembar tabel perhitungan; akan lebih efektif jika lembar perhitungan ini dibuat dalam format MS Excel, sehingga perhitungan bisa didapatkan secara otomatis. Untuk mendapatkan format perhitungan tersebut silahkan download di web saya (link ini). Data yang diperlukan adalah
- Tool offset bit distance, adalah jarak sensor LWD yang terdekat dengan bit, ambil contoh saja sensor GR adalah sensor yg terdekat dengan bit dan mempunyai jarak 15 meter dari bit. Maka perlu dimengerti dan disadari bahwa drill bit akan menembus 15 m MD (measured depth) LEBIH DALAM dari apa yang terlihat dan terekam pada GR LWD; saya menyebutnya sebagai "Blind Interval" (interval buta).
  1. Pada offset well, hitung jarak TVD dari bed marker / formation top terakhir ke STOP POINT, sebagai contoh bed marker terakhir mempunyai kedalaman 1208m TVDSS dan STOP POINT pada 1237m TVD, jadi jarak TVDnya adalah 1237 - 1208 = 29m TVD. Konversikan jarak 29m TVD tersebut ke jarak MD - bisa dengan rumus sederhana yaitu MD = TVD/cos (a); dimana (a) adalah sudut kemiringan (dip survey) lubang sumur; misalkan hasilnya adalah 32m MD, maka jarak inilah yang merupakan patokan batas bagi kita untuk menentukan SP (Stop Point). Jadi secara teoritis bed marker akan terlihat dan bisa diamati dengan GR yang terekam langsung (LWD GR realtime). Karena jarak ini masih lebih besar dari "Blind Interval" diatas.
  2. From Blog
  3. Pada current well, amati drilling parameter atau data LWD yang terekam saat memasuki bed marker. Catatlah kedalamannya, jika kedalaman masih dalam bentuk MD (measured depth); konversikan ke TVD tersebut, misalnya diketahui bed marker pada 1400m TVD (lihat gambar), maka dapat diperkirakan SP (Stop Point) yaitu 1400 + 29 = 1429m TVD. Konversikan kedalaman TVD ini ke MD (measured depth) untuk memberikan informasi kepada Drilling Supervisor; karena biasanya mereka terbiasa dengan kedalaman miring terukur (measured depth).
  4. From Blog
  5. Final Analysis, adalah analisa terakhir sebelum kita betul-betul memutuskan tempat "Stop point" ini adalah dengan mengamati dan mendeskripsikan dari 'drill cutting sample' kedalaman terakhir serta mengamati pembacaan gas. Analisa dan perhatikan dari data terakhir tersebut dan periksa kembali lembar korelasi, tabel perhitungan. Setelah itu, yakinlah bahwa keputusan yang diambil sudah baik dan tepat. Sajikan hasil-hasil korelasi dan perhitungan kepada Drilling Supervisor di rig, kemudian kirimkan kepada Operation Geologist di kantor anda sebagai lampiran (attachment) email anda.


Semoga bermanfaat,
Sad Agus Praptiono
Wellsite Geologist Consultant

Saturday, July 31, 2010

Korelasi di Wellsite (1)

Tentang Korelasi Sumur
Ini adalah bagian pertama dari dua tulisan mengenai korelasi di wellsite. Untuk bagian yang lebih detil saya tulis dalam tulisan yang kedua.
Salah satu aspek terpenting yang dikerjakan oleh seorang Wellsite Geologist adalah mengetahui gambaran geologi bawah permukaan (subsurface) pada sumur yang sedang dibor. Dalam hal kaitannya dengan korelasi sumur, maka disini akan berbagi sedikit pengalaman dan tip dalam melakukan korelasi antar sumur saat pemboran berlangsung.
Korelasi dalam pengertian disini adalah mengkorelasikan suatu bed marker, formation top atau lapisan penciri lainnya yang dapat dihubungkan dengan suatu garis secara horizontal yang berupa gambar-gambar / data-data dari suatu log (LWD, Wireline, Mud Log, Lithology log dll).  Adapun yang saya uraikan disini yaitu jika kita tidak mempunyai perangkat lunak khusus untuk geologi; jadi disini saya akan menggunakan software yang sehari-hari kita pergunakan yaitu Excel, Powerpoint ataupun word - yang terpenting dari semua perangkat lunak itu tersedia "drawing tool" untuk menggambar garis, simbol sederhana serta dapat mengetikkan text dan tabel.
Dibawah ini saya perlihatkan korelasi detil dari dua sumur ada contoh lain dengan sumur yang lebih banyak, perlu diingat setiap korelasi harus mempunyai patokan satu garis horizon.
From Blog



Sebelum menginjak marilah kita sedikit menengok tentang apa dan mengapa korelasi antar sumur dilakukan, hal-hal apa yang perlu dipenuhi sebelum melakukan korelasi. Ada beberapa kaidah dan ketentuan dalam sebuah korelasi yang harus dipenuhi agar korelasi tersebut tidak membingungkan dan betul secara geologi, antara lain:
  1. Skala yang sama: Setiap data sumur dalam bentuk log harus mempunyai skala vertikal yang sama. Hal ini untuk mencegah kesalahan perhitungan dalam perkiraan ketebalan semu (apparent thickness) dari suatu lapisan atau jarak dari formation top satu dengan yg lain.
  2. TVD log: Log sumur yang digunakan dalam korelasi harus berdasar pada kedalaman vertikal TVD atau TVDSS. Hal ini ditujukan agar gambaran bawah permukaan dan perhitungannya tidak salah dan sesuai dengan peta penyebaran kedalaman (Isopach).
  3. Satu Horizon flat: Dalam satu panel korelasi sebaiknya menggunakan satu garis horizon yang terikat pada salah satu formation top atau marker yang jelas, agar memudahkan bagi seorang geologist melakukan analisa korelasi di sequence bawah atau atas horizon tersebut.
  4. Formation Top TVD: Sumur-sumur yang dihubungkan dalam korelasi harus mempunyai kedalaman vertikal Formation top atau marker yang akan dihubungkan. Jika hanya diketahui Measured Depth (MD) dari sumur yg deviated, maka harus dihitung TVD / TVDSS nya berdasar dari deviational survey yang ada.
  5. Tegak lurus Struktur Geologi: Walaupun ini tidak harus dilakukan, biasanya korelasi dibuat berdasar dari lokasi-lokasi sumur dalam satu lintasan penampang melintang yg tegak lurus dengan struktur geologi bawah permukaan. Misalnya memotong suatu poros antiklin atau memotong tegak lurus dari suatu patahan. Agar korelasi memberikan gambaran bawah permukaan yang lebih jelas.

Adapun persiapan yang perlu dilakukan sebelum anda melakukan korelasi di wellsite, yaitu Data sumur dan perangkat lunaknya. Pastikan anda mempunyai data-data offset well (sumur terdekat); akan lebih baik jika jumlahnya lebih dari satu sehingga korelasi yang didapat saat drilling akan lebih akurat dan reliable atau representatif. Data-data ini yaitu berupa gambar log dengan kedalaman TVD atau TVDss berbentuk PDF, tabel list formation top setiap sumur. Perangkat lunak atau software; bisa Excel, Powerpoint ataupun Word.

Teknik Korelasi
Bukalah satu dokumen atau file kosong yg baru, dalam hal ini saya menggunakan MS Excel. Di lain program, bukalah file log dalam bentuk PDF. Lakukan peng copy an gambar log dengan select > Tool > Screen snapshot , tariklah mouse pada kotak yang akan anda copy log tersebut. Setelah meng copy nya didalam clipboard, kembali ke program Excel file yang kosong > paste kan dengan CTRL-V atau Edit > Paste; maka gambar log offset well tadi sudah masuk. Lakukan hal yang sama pada sumur yang lain dan sumur yang aktif (current well). Buatlah satu garis horizon untuk menghubungkan salah satu bed marker atau formation top yaitu dengan menggambar satu garis horizontal dan menaik-turunkan masing-masing gambar log sumur.

Bila perlu tambahkan beberapa tabel perhitungan yang berguna untuk menghitung "Landing Point", "Casing Point" atau "Coring Point"; seperti gambar contoh diatas. Korelasi di wellsite sangatlah berguna dan perlu dilakukan oleh seorang wellsite geologist. Selain memberikan gambaran yang lebih jelas tentang keadaan bawah permukaan (subsurface), korelasi juga berguna untuk memperkirakan formasi batuan yang akan ditembus oleh drill bit berdasarkan dari data-data sumur sekitar. Pengetahuan tentang struktur geologi bawah permukaan daerah yang sedang dibor juga diperlukan, guna untuk memperkirakan adanya anomali-anomali seperti penebalan, penipisan, hilangnya satu lapisan akibat sesar atau patahan batuan (fault).

Insya Allah, dalam tulisan yang akan datang saya dapat memberikan satu contoh kasus sederhana mengenai bagaimana aplikasi korelasi ini untuk penentuan coring point atau landing point dalam operasi pemboran horizontal well.

Semoga bermanfaat,
Sad Agus
Wellsite Geologist

Tuesday, July 20, 2010

Persiapan sebelum ke Well Site

Tulisan dibawah ini hanyalah sekelumit cerita untuk berbagi kepada semua bahwa PERSIAPAN adalah tahapan yang penting bagi siapa saja dalam pekerjaan apa saja.

Kontrak Kerja
Setelah 'mengejar' dan mencari lapangan pekerjaan melalui email dan menjelajah ratusan website beberapa bulan. Akhirnya beberapa tawaran untuk menjadi wellsite geologist datang juga; sebetulnya tawaran datang dari beberapa negara tetangga, hanya saja tawaran yg terakhir ini tampak menarik - disebabkan saya akan bekerja dengan teman lama saya dari Australia dan saya sangat senang dia 'mengajak' saya untuk mengerjakan proyek pemboran di negara tetangga. Alhamdulillah.

Setelah menunggu beberapa hari, salah satu perusahaan jasa konsultan kerja dari Singapore menghubungi saya via handphone saya. Saat itu dia langsung menanyakan nilai daily rate (upah harian) yang diinginkan, segera hal itu sudah saya tanggapi baik secara lisan maupun email.

Dua minggu setelah itu terjadi 'tawar menawar' upah harian saya, disinilah sering terjadi perang bathin dalam diri seorang geologist - sebagai pekerja lepas (freelance) yang masih baru; lain halnya dengan seorang geologist yg berpengalaman yg mengerti akan kondisi 'pasar'. Maka hal ini akan mudah dilalui dalam proses negosiasi. Akhirnya kesepakatan dapat dicapai; yang perlu disadari dari pihak seorang tenaga konsultan geologist bahwa tidak akan pernah tercapai upah harian yang diinginkan, selain memberikan toleransi dengan batas harga 'upah harian' (daily rate) yg sudah kita ketahui diluar.

Kontrak kerja dalam bentuk draft dikirimkan via email, dengan sedikit koreksi dari saya; akhirnya saya menanda-tangani kontrak kerja tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sebelum menanda-tangani kontrak kerja:
  1. Teliti dan Paham: Bacalah sungguh-sungguh dan perlahan tentang kontrak kerja, jika dalam bahasa Inggris - cobalah dengan menerjemahkan, bahkan jika perlu bukalah kamus. Sampai kita betul-betul paham dalam setiap pasal-pasal aturannya. 
  2. Pajak: Upah yang dibayarkan nantinya, harus jelas untuk pembayaran pajaknya - maksudnya siapakah yang akan membayar pajak upah tersebut? Anda atau perusahaan yg melaksanakan pekerjaan atau perusahaan jasa penyedia tenaga kerja? Biasanya untuk kontrak kerja pekerja ahli geologi dengan upah harian, pajak akan ditanggung oleh klien atau pihak perusahaan yang melaksanakan pekerjaan dalam hal ini adalah perusahaan minyak (Oil Company). 
  3. Travel Expense: Banyak yang menganggap biaya transportasi dan akomodasi ini adalah hal sepele, padahal jika diperhatikan tidak sedikit biaya yang dikeluarkan dan ini tergantung dari lokasi tempat pekerjaan itu. Saya pernah mendapat 'pelajaran' penting dari mantan supervisor saya; ketika dia dengan tekunnya mengisi travel expense form dengan teliti, bahkan melakukan check berulang-kali; padahal konon kabarnya gajinya sudah 'tinggi' sekali. Kemudian saya tanyakan: "Khoq expense yg kecil gitu diurusin sih? khan kamu gajinya udah banyak?" Dia hanya berseloroh: "Ini adalah salah satu hak saya dan ini merupakan bagian pekerjaan saya, jadi saya harus menyelesaikan nya dengan baik." 
  4. Periode: Perhatikan juga kapan kontrak dimulai dan kapan berakhir. Penting untuk mempertimbangkan lamanya pekerjaan yang akan dilakukan. Beberapa rekan-rekan wellsite geologist - ada yang mempertimbangkan dengan waktu-waktu liburan atau hari-hari yg berhubungan dengan lebaran atau hari natal atau hari keagamaan lainnya. Bahkan ada juga yg mempertimbangkan dengan acara kegiatan yg lebih pribadi. 
  5. Segera! Tanda tangani kontrak kerja tersebut segera dan kirimkan kembali kepada perusahaan / pihak pembuat kontrak. Jangan terlalu lama berada didalam 'inbox' email anda. Tanyakan segera jika memang ada yang belum jelas. Ingat...! Bisa saja kita kehilangan kesempatan kerja dengan lambatnya proses ini.
Persiapan Teknis
Proses selanjutnya adalah sebagai konsultan yang profesional; seharusnya lebih pro aktif, yaitu dengan menanyakan beberapa data teknis dan persiapan kepada pihak perusahaan, misalnya:
Presentasi Log salah satu perangkat lunak.
  1. Data-data sumur pemboran sekitar (Offset wells) bisa didapat untuk dipelajari; data - data bisa berupa laporan geologi, composite log, laporan inti batuan (core report), analisa petrophysic, lithology log, mud log dan log-log lainnya. 
  2. Laporan rencana pemboran (Drilling Proposal, Geotechnical Proposal) yang mencakup prediksi secara geologi misalnya formasi-formasi batuan yang akan dibor, target formasi batuan yang dituju, sampai kedalaman akhir (TD - Total Depth) yang akan dicapai. Kendala-kendala yang mungkin akan dihadapi, misalnya lost circulation, shallow gas, overpressure zone dll. 
  3. Reporting system - Tanyakan kepada supervisor anda dalam hal ini Operation Geologist, bagaimana bentuk laporan harian, mingguan, akhir sumur yang akan diinginkan. Biasanya dalam bentuk word document. Mintalah format nya dan persiapkan. 
  4. Geology Log Software - Kebanyakan perusahaan minyak yang besar merupakan pemakai perangkat lunak geology untuk operasi pemboran. Jadi tanyakan hal ini dan yakinkan anda dapat melakukan pekerjaan dengan alat bantu tersebut. Jika memang terjadi kesulitan, mintalah waktu untuk mempelajari nya sebelum berangkat ke lapangan anjungan pemboran. 
  5. PLUS Value - Ada pengalaman berharga yang saya dapat, yaitu jika kita mempunyai kemampuan dan menguasai untuk menjalankan suatu software baik itu untuk membuat laporan geologi atau log-log geologi. Segeralah manfaatkan alat bantu tersebut, masukkan data-data yang sudah ada dalam software, persiapkan semua format yang mungkin nanti dibutuhkan misalnya: Plot Actual VS Prognosis, Composite Log, Daily Geological Report, Lithology & Oil show description database, Correlation panel, Wireline Summary Report, MDT Report dll. Sehingga jika saatnya datang, format-format tersebut sudah siap untuk di eksekusi dan anda tidak perlu atau tidak ingin 'overload' saat di well site. 

Non Teknis
Hal - hal non teknis yang saya uraikan dibawah ini, bukanlah hal yang krusial atau sangat penting; tapi tetap sebagai suatu tahapan yang kita lalui, yaitu antara lain: persiapkan semua peralatan yang perlu dibawa dan wajib dibawa, misalnya anda perlu mengutamakan baju coverall, safety shoes, safety hat, seperangkat laptop pribadi, peralatan tulis, kalkulator, hard drive, thumb / pen drive dan barang pribadi lainnya, misalnya buku bacaan, kamera foto, MP3 player; atau hal-hal yang dapat membunuh kebosanan.

Pastikan waktu keberangkatan dan ticket penerbangan dengan pihak perusahaan. Bangunlah lebih awal saat keberangkatan dan periksa sekali lagi semua barang yang sudah disiapkan; jika perlu buat check list untuk menghemat 'memory' otak anda. Ingatlah bahwa "Persiapan dan latihan akan mendatangkan bakat tersendiri"

Semoga bermanfaat.

Salam,
Sad Agus
http://sadagus.com

Saturday, March 20, 2010

Tentang Wireline Log

Dalam tulisan ini saya tidak akan menyinggung mengenai detil (Gamma Ray, Resistivity, density, dll) dan melainkan hanya dasar dan gambaran umum serta alasan mengapa dilakukan wireline logging.

PENDAHULUAN

Setidaknya ada tiga sumber informasi geologi yang dapat digunakan untuk penelitian geologi suatu daerah (Sedimentary environments from wireline logs - oleh O. Serra, 1989) yaitu:

1. Singkapan batuan: Jenis penelitian dari singkapan batuan masih merupakan sumber informasi geologi yang penting di permukaan baik yang bersifat alam ataupun buatan manusia misalnya: terowongan, tebing atau parit yang dibuat manusia dari pertambangan atau proyek jalan. Namun sejalan kemajuan teknologi dan majunya industri pemboran minyak, maka informasi ini banyak digantikan oleh data-data pemboran atau data seismik permukaan (gravimetry, survey seismik, magnetisme) atau geofisika lubang sumur yaitu well logging. Alasan lain adalah seringnya informasi geologi dari singkapan hasil ekstrapolasi bawah permukaan (subsurface extrapolation) sering meleset atau melenceng; yang lebih jauh lagi adalah timbulnya / adanya kerumitan bentuk-bentuk geologi bawah permukaan (stratigraphic traps, fluid permeability barrier) baik dari ukuran maupun kedalaman strukturnya.

2. Geofisika permukaan: Informasi jenis kedua ini, kerapkali dapat memberikan gambaran dua dimensi bahkan tiga dimensi bawah permukaan dan merupakan sumber informasi yang penting dan bersifat langsung. Baik bentuk-bentuk dan susunan lapisan batuan, bahkan dapat pula memberikan informasi petrofisik seperti kandungan fluida; seperti pada seismofacies, "bright spot"...). Sehingga hipotesa geologi yang dituangkan dalam interpretasi seismik ini darus diikuti dan dibuktikan oleh proses pemboran sumur. Interpretasi seismik ini akan memudahkan dan tentunya akan didukung oleh wireline logging. Dengan pengukuran "Vertical Seismic Profile" (VSP) dalam suatu sumur; kita akan dapat melihat lebih jelas bentuk-bentuk geologi bawah permukaan ini.

3. Pemboran: ada dua jenis sumber data / informasi geologi dalam pemboran yaitu (a) bersifat langsung - seperti drill cutting sample, core sample, sidewall core dan (b) tidak langsung - yaitu pengukuran sifat fisik batuan pada lubang bor dengan menggunakan alat wireline logging.
Core konvensional, jika menerus dan kualitas samplingnya baik, mempunyai data yang banyak sekali. Sayangnya, karena alasan biaya (ekonomi) dan teknis (waktu dan alat), coring jarang sekali dilakukan dalam suatu proses pemboran. Sehingga seringkali geologist menggunakan data cutting sample atau sidewall core dengan wireline. Ditambah lagi, semakin dalamnya lubang bor, maka semakin tinggi 'ketidak-pastian" dan ketidak-akuratan data kedalaman maupun kualitas sample nya, hal ini disebabkan proses 'campur-aduk' lumpur sebagai pembawa / media cutting ke permukaan, atau disebabkan adanya runtuhan ('caving') dan hilangnya beberapa kandungan karena adanya lost circulation. Sehingga, sebagai akibatnya, informasi yang sifatnya tidak langsung yaitu wireline logging menjadi penting - khususnya untuk kualitas, jenis peralatan dan metode interpretasi yang digunakan. Hal ini bukan saja untuk pembuktian dalam bentuk data dan informasi geologi tapi juga membantu dalam sintesis data-datanya.

KAPAN & BAGAIMANA

Kapan dilakukan wireline logging ini? Seperti yang telah diungkapkan diatas bahwa proses wireline logging ini adalah merupakan bagian dari suatu proses pemboran minyak dan gas bumi. Setelah pemboran dilakukan dan pemboran ini biasanya dapat dibagi menjadi beberapa fase, sebagai contoh: dimulai dengan fase lubang 26" (top hole), dilanjutkan lubang 12-1/4" (intermediate) dan diakhiri dengan fase lubang 8-1/2" (interest zone). Setiap selesai satu fase (intermediate dan interest zone), dimana keadaan lubang masih terbuka (open hole)- maksudnya lubang belum ditutupi oleh selubung (casing), dapat dilakukan wireline logging ini. Secara umum, teknis pelaksanaannya adalah sebagai berikut: lubang yang sudah dianggap aman (artinya tekanan berat lumpur didalam lubang cukup untuk dapat menahan tekanan formasi batuan), akan dimasukkan satu rangkaian alat logging ini dengan menggunakan kabel kawat baja sampai kedalam akhir (TD), setelah itu, pengukuran akan dilakukan sambil menarik alat wireline logging keatas secara perlahan. Jadi proses pengambilan data dimulai dari bawah ke permukaan.

MENGAPA HARUS WIRELINE LOGGING?

Dari beberapa bahan bacaan saya ditambah dengan sedikit pengalaman, maka dapat saya ringkas mengapa wireline logging dilakukan? Disebabkan karena mereka:

1. Dapat memberikan data yang AKURAT, PRESISI, OBYEKTIF dan bersifat REPETITIVE (berulang).

2. Datanya bersifat MENERUS, tentu saja dg interval mulai dari 15cm, bahkan bisa sampai 3cm jika memang diperlukan.
Basic presentation

3. Menghasilkan data-data dari SIFAT FISIK BATUAN, yang seterusnya dapat dilakukan analisa porositas, volumen batuan, dan analisa batuan lainnya yang dapat menguntungkan dan berguna bagi seorang geologist perminyakan.
Sloughing Coal

4. Sifatnya PERMANEN; maksudnya disini data aslinya (Raw File) dapat digunakan kembali jika muncul ide atau metode interpretasi yang berbeda atau baru.
Always online

5. Dari segi waktu, data wireline logging CEPAT dan LANGSUNG tersedia di wellsite; dengan sedikit proses yang dilakukan dimana wireline engineer juga melibatkan wellsite geologist. Sehingga ada quality control dari WSG sebagai orang yang mewakili oil company; seperti proses shifting depth dan merge file, dll.

6. EKONOMIS, biaya sewa anjungan pemboran merupakan biaya yang tertinggi dalam suatu pemboran minyak (rig cost) jadi karena proses wireline logging relatif cepat maka relatif sangat menguntungkan bagi perusahaan minyak, dibandingkan dengan proses coring yg relatif lebih mahal dan lama.

7. Bergantung pada PARAMETER GEOLOGI, misalnya susunan formasi, sifat fisik batuan, bentuk-bentuk geologi bawah permukaan lainnya. Sehingga seorang geologist yang paham dengan kondisi daerahnya akan merasa diuntungkan dengan adanya wireline logging ini. Misalnya: dia mengetahui adanya unconformity (ketidak-selarasan) dengan perkiraan kedalaman tertentu, maka dengan wireline logging dapat dianalisa lebih detil, atau fault (sesar) atau kondisi-kondisi geologi lainnya.

HUBUNGAN WIRELINE LOG DENGAN GEOLOGI

Ada tiga (3) parameter geologi yang mempengaruhi wireline logging yaitu komposisi, tekstur dan struktur dari batuan. Kandungan fluida (gas, minyak, atau air) juga dapat dilihat indikasinya, karena fluida tersebut berada dalam pori-pori batuan atau / dan fracture batuan; yang merupakan kesatuan dan tidak terpisah didalam lubang sumur minyak dan terukur oleh alat wireline logging.

Satu hal penting adalah wireline logs dapat memberikan 'gambar' batuan dibawah permukaan yang sudah dibor. Mereka dapat memberikan gambaran yang jelas, walaupun terkadang sebagian dan kurang lengkap seperti layaknya singkapan permukaan. "Gambar" tersebut sifatnya menerus dan selalu permanen, obyektif dan kuantitatif. Selanjutnya 'gambar-gambar' ini akan dapat terlihat lebih jelas saat kita melihat adanya perbedaan - perbedaan pengukuran yang menyolok, misalnya bagaimana 'gambar' log yang melewati lapisan batulempung dengan lapisan batupasir. Jadi dapat disimpulkan bahwa alat wireline logging ini dapat kita ibaratkan sebagai 'mata' dan instrumen geologi (palu, kaca pembesar, kompas) kita; yang kita biasa gunakan dalam penelitian singkapan batuan di permukaan.

Karena wireline log sangat bergantung pada sifat-sifat fisik batuan maka mereka betul-betul dapat dipakai sebagai penciri dari suatu lapisan batuan dan seharusnya wireline log diberlakukan sebagai data geologi, dengan interpretasinya juga sebagai interpretasi geologi. Di satu sisi, alat wireline logging yang sebetulnya mengukur ciri-khusus batuan bawah permukaan yang sudah dibor, baik itu sifat fisik, kimia dan biologi (yg sudah terendapkan pada kondisi iklim dan geografi terentu); sedangkan disisi lain evolusi (perubahan suatu formasi) adalah suatu pokok persoalan dalam sejarah geologinya itu sendiri. Yang penting disini adalah untuk meneliti, menjelaskan, menganalisa dan menginterpretasikan obyek wireline log, seharusnya juga seperti obyek geologi lainnya.

Suatu interpretasi wireline log yang jelas, tidak hanya dapat didukung oleh analisa data log yang detil dan akurat, tapi juga harus didasarkan pada pengetahuan peralatan logging yang cukup dan konsep geologi yang benar; sebetulanya interpretasi log sendiri adalah merupakan 'terjemahan' dari data/parameter LOG ke data GEOLOGI yang membutuhkan 'kamus' atau 'interpreter' yang paham dan mengerti kedua 'bahasa' tersebut.

Kenyataan yang dihadapi, wireline log yang dapat memberikan informasi mengenai mineralogi, unsur komposisi, tekstur dan struktur sedimen bahkan tektonik, facies, stratigrafi, dll; maka hal pertama yang perlu kita pahami adalah istilah-istilah geologi tersebut. Baru setelah itu, kita bisa menentukan bagaimana dan bagian parameter geologi mana yang berpengaruh pada alat wireline logging. Dengan alasan inilah maka kita dapat menjadi parameter geologi sebagai berikut:
  • Suatu lingkungan pengendapan akan dicirikan oleh suatu kumpulan facies tertentu.
  • Facies itu sendiri, ditentukan oleh komposisi, tekstur, warna, kandungan fosil, struktur dan geometri batuan nya.
Rasanya terlalu awal untuk menunjukkan bagaimana hubungan wireline log dengan parameter-parameter tersebut; selain itu dibutuhkan penjelasan-penjelasan secara visual seperti gambar-gambar dan contoh-contoh log berupa electrofacies model suatu lingkungan pengendapan tertentu.


Salam,
Sad Agus
Geologist

- Referensi bacaan:
  • Sedimentary Environments from Wireline Logs - O. Serra, 1989
  • Drilling Practices Manual - Preston L. Moore, 1986
  • Quick Look Techniques for Prospect Evaluation, Taniel J. Tearpock, Richard. E. Bischke, Joseph L. Brewton, 1994.