Saturday, November 19, 2011

Mengingat Tektonik Lempeng

Untuk mengisi waktu kosong, saya mencoba menggali dan mengingat kembali tentang teori Tektonik Lempeng. Terus terang, banyak yang terlupakan secara detil mengenai teori ini. Untuk saya coba untuk menggambar kembali dalam bentuk sketsa-sketsa sederhana, jadi mudah untuk mengingat nya lagi. Hal ini juga membuat saya sadar bahwa dalam bidang ilmu kebumian (Geoscience), gambar-gambar atau bentuk ilustrasi lainnya - merupakan alat ampuh untuk menjelaskan, sekaligus sangat efektif untuk memahami proses. Singkatnya, gambar dibawah dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana proses tektonik lempeng bekerja:

From Wellsite Geology Blog

Meskipun gambar ini menunjukkan hubungan interaksi antara lempeng benua dan lempeng samudra, umum nya proses ini dapat diterapkan juga antara dua lempeng samudra.

1. Ada dua jenis LITOSFER yaitu: litosfer benua dan litosfer samudra. Litosfer BENUA mempunyai berat jenis relatif ringan karena terbentuk dari mineralmineral ringan. Sedangkan litosfer SAMUDRA bersifat lebih padat dibandingkan litosfer benua karena terbentuk dari mineral-mineral berat. Suatu lempeng bisa saja terdiri dari litosfer samudra atau litosfer benua, tapi kebanyakan sebagian litosfer samudra dan sebagian litosfer benua.

2. Dibawah lempeng-lempeng litosfer tersebut terdapat ASTENOSFER, yaitu suatu lapisan mantel yang terdiri dari batuan padat liat. Karena lempeng bersifat lebih ringan dibandingkan dg Astenosfer yang berada dibawahnya, maka mereka mengapung diatas astenosfer.

3. Dengan semakin dalamnya pada bagian astenosfer maka semakin besar tekanan dan suhu, yg mengakibatkan batuan nya akan lebih bersifat lunak/ cair dan sebagian lebur. Semakin bersifat cair tapi batuan padat tersebut dapat mengalir perlahan dalam waktu geologi. Ketidak-stabilan suhu yg mencapai batas “inti” atau mantel, akan membentuk arus konveksi yg perlahan didalam astenosfer yang liat tersebut.

4.Setelah terbentuk, arus konveksi ini akan membawa material panas dari bagian yg lebih dalam ke bagian permukaan dari bagian mantel.

5. Naiknya mereka mendekati permukaan, menyebabkan adanya penerobosan arus konveksi pada bagian bawah litosfer. Penerobosan arus ini akan mendesak bagian yang lemah tekanannya atau “tertarik” ke bagian lempeng padat diatasnya. Tekanan dan aliran sangat panas semakin melemahkan dan memecahkan lempeng padat yang mengapung. Dua sisi lempeng yang terbelah akan bergerak saling menjauh, membentuk BATAS PEMISAHAN LEMPENG (DIVERGENT PLATE BOUNDARY).

6. Ruang antara lempeng yg terpisah diisi dengan magma pijar dari bawah. Kontak dengan air laut akan mendinginkan magma, yang dengan cepat
mengeras, membentuk litosfer samudera baru. Proses ini berkesinambungan dan berjalan selama jutaan tahun, membangun rantai gunung berapi
bawah laut dan lembah retakan disebut MID-OCEAN RIDGE (Rangkaian pegunungan tengah samudra atau rangkaian pegunungan pemisahan lempeng samudra.

7. Sebagai batuan cair baru akan terusmengalir pada MID-OCEAN RIDGE dan menumbuhkan lempeng samudera (6), bagian lempeng yang lebih tua (yg sebelumnya terbentuk) bergerak menjauh dari punggungan dimana ia awalnya berada.

8. Semakin jauh pergerakan lempeng samudra, akan semakin jauh dari rangkaian pemisahan yang panas dan aktif, secara berangsur akan mendingin. Lempeng yang paling dingin, akan semakin bersifat padat (“berat”). Akhirnya, tepi piring yang terjauh dari pegunungan dingin menyebar begitu banyak sehingga menjadi lebih padat dari astenosfer di bawahnya.

9. Sebagaimana kita ketahui, material yang lebih padat akan tenggelam dan hal inilah yang terjadi pada lempeng samudra - yang mulai tenggelam kedalam astenosfer. Dimana satu lempeng akan tenggelam dibawah lempeng lainnya membentuk “Zona Tumbukan” (Subduction zone).

From Wellsite Geology Blog

10. Bagian ujung depan lempeng samudra yang tenggelam akan “menarik” sisa bagian lempeng yang berada di belakangnya - bukti menunjukkan bahwa hal ini merupakan tenaga utama pendorong tumbukan. Parah ahli geologi tidak bisa memastikan sampai seberapa dalam lempeng samudra ini tenggelam sebelum mulai melebur dan mulai tidak berbentuk lempeng yang padat dan kaku, tapi kita juga tidak mengetahui apakah bentuknya tetap padat sampai kedalaman 100km dibawah permukaan bumi.

11. Zona Tumbukan (Subduction zones) adalah salah satu jenis dari BATAS PERTEMUAN LEMPENG (CONVERGENT PLATE BOUNDARY), yaitu jenis batas pertemuan lempeng yang terbentuk dimana dua lempeng bergerak saling mendekat. Perlu diingat, walaupun lempeng samudra dingin, juga tenggelam, walaupun dingin tapi lempeng benua yg padat dan lebih ringan mengapung bagaikan gabus yang mengapung diatas astenosfer.

12. Ketika tumbukan, lempeng samudra tenggelam di bawah permukaan bumi, suhu yang besar dan tekanan di kedalaman yang besar menyebabkan keluarnya cariran “keringat”. Cairan “keringat” ini dapat meresap ke atas dan mencairkan sebagian mantel diatasnya yg padat pada bagian atas lempeng yang menumbuk, akan membentuk kantong batu pijar (magma).

13. Mantel baru yang berbentuk batu pijar (magma) berbentuk kurang padat dibandingkan batuan sekitarnya, yang menyebabkan dapat mengalir ke
permukaan. Badan magma besar yang mendingin dan mengeras akan membentuk batuan plutonik besar (batuan beku intrusive) berada jauh dibawah permukaan bumi. Batuan intrusive besar ini dapat tersingkap di permukaan karena adanya erosi. biasanya berbentuk inti dari rangkaian deretan pegunungan besar (seperti Sierra Nevada, California atau Pegunungan Andes, Amerika Latin) yang terbentuk sepanjang zona tumbukan.

14. Sebagian batuan pijar tersebut dapat mencapai permukaan bumi dapat melepaskan gas bertekanan. Seiring dg keluarnya lava dan abu vulkanik yang mencapai permukaan akan terakumulasi - lapisan demi lapisan membentuk rangkaian gunung api dan dataran tinggi, seperti rangkaian gunung api di sepanjang kepulauan Indonesia dan datarang tinggi Bandung, Dieng di Indonesia, sungai Columbia di bagian barat laut Pasifi k, Amerika Serikat).

- Diambil dari website USGS di http://pubs.usgs.gov/gip/dynamic/understanding.html).
(Terjemahan bebas oleh: Sad Agus Praptiono - 82.1528-TG, UPN Veteran Yogyakarta)

Thursday, August 11, 2011

Data Wellsite di Sumur Eksplorasi

Seorang wellsite geologist yang bekerja untuk pemboran sumur eksplorasi untuk lapangan minyak dan gas bumi mempunyai tugas untuk mengontrol kualitas semua data pemboran baik data permukaan (surface data) maupun data bawah permukaan (surbsurface). Dua jenis data tersebut disediakan oleh beberapa perusahaan jasa pemboran (oil service company) dan diambil selama pemboran berlangsung dan diberikan kepada wellsite geologist; sebagai wakil dari perusahaan minyak yang melakukan pemboran sumur eksplorasi tersebut. Sebelum meningkat lebih jauh, tentang bagaimana melakukan check & quality control data-data tersebut; ada baiknya mengetahui data-data apa saja yang akan diterima oleh seorang wellsite Geologist

Well Information
Semua data tentang sumur yang akan dibor, yaitu nama sumur, tipe sumur (directional, horizontal, vertical hole), lokasi koordinat, Elevasi, AFE number, Spud date, TD proposed, semua tertuang dalam well proposal. Semua informasi yang sifatnya masih dalam proposal, harus segera di "update" saat pemboran akan dimulai, yaitu dimana anjungan pemboran (drilling rig) sudah dalam posisi siap mulai melakukan pemboran.
Data Koordinat Lokasi Sumur Pemboran
From Picasa blog

Mud Logging Data
Saat pemboran berjalan, data-data pemboran dan geologi di permukaan biasanya diambil oleh tim mud logging. Dalam sumur eksplorasi mereka terdiri dari 2 tim kerja (malam & siang). Satu tim kerja mud logging tersebut yaitu satu orang Data Analyst atau Pressure Engineer, satu orang Mud Logger dan satu orang Sample Catcher. Mereka bertugas mengumpulkan data-data pemboran yaitu parameter pemboran (ROP, WOB, RPM, GPM, SPP, dan lain-lain), drill cutting sample, rekaman kedalaman sumur, lumpur pemboran (MW in, MW out, MT in, MT out), gas yang dikandung didalam lumpur pemboran, selain itu memonitor jika ada kemungkinan unsur-unsur gas berbahaya seperti H2S. Seluruh aktifitas pemboran juga dicatat dalam suatu log harian dan database, disertai dengan keterangan-keterangan yang mungkin diperlukan. Seluruh data-data pemboran tersebut, akan dituangkan dalam bentuk log grafik kurva vs kedalaman maupun dalam log-log catatan laporan harian; selain data tersebut juga menyediakan data-data berupa angka-angka dari setiap data yang diperlukan. Dalam era modern seperti sekarang, mereka seringkali menyediakan dalam bentuk digital atau soft file, yang dilaporkan secara rutin tiap harinya. Mereka adalah:
1. Master Mud Log
2. Gas Ratio Log
3. Drilling log
4. Formation Pressure Log
5. Activity time base Log
6. ASCII data (drilling & gas data)
7. Mud Logging daily report
From Picasa blog

MWD, LWD, directional survey
MWD (Measurement While Drilling) data, LWD (Logging While Drilling) data dan directional survey data adalah data-data yang diambil dari bawah permukaan bersamaan saat pengeboran berlangsung; jasa ini disediakan oleh service company. Data-data tersebut antara lain data kemiringan dan arah (inclination & azimuth) lubang sumur (MWD) dan / atau sifat-sifat fisik batuan yang diukur oleh peralatan pengukur (LWD tool) yang dirangkai bersama dg pipa bor, mereka adalah GR, RESISTIVITY. POROSITY. Sama dg mud logging, mereka merupakan database yang dapat dituangkan dalam bentuk log grafik kedalaman dan akan dilaporkan secara rutin tiap harinya. Laporan mereka berupa:
1. LWD log (format MD & TVD)
2. MWD directional survey data
3. Vertical & Plan view well path plot
4. ASCII data (LWD log data & survey data)
5. Run Summary report (LWD tool & dir driller)
From Picasa blog

Wireline (Electric) logging
Wireline logging adalah pengukuran sifat fisik batuan yang diambil setelah satu bagian interval kedalaman tertentu selesai dibor. Adapun cara pengambilan data logging jenis ini yaitu dengan memasukkan rangkaian alat pengukur dengan menggunakan kabel (wireline) kedalam lubang bor. Karena lubang bor sudah tersedia, maka banyak pilihan data yang dapat diambil; seperti yg telah saya jelaskan ditulisan sebelumnya TENTANG WIRELINE LOGGING. Bentuk log pengukuran dan laporan yg disajikan antara lain:
1. GR / RESISITIVITY / POROSITY LOG
2. IMAGE & SONIC LOG
3. FORMATION PRESSURE TEST & FLUID SAMPLING
4. SIDEWALL CORE
5. SEISMIC SURVEY
6. CEMENT BOUND LOG
Setiap pengukuran diatas, seorang wireline engineer harus mencatat urutan pengoperasian, problem jika memang terjadi dari waktu ke waktu, dimana semua itu harus dilaporkan kepada drilling supervisor dan wellsite geologist. Bahkan wellsite geologist wajib mengawasi saat semua pengukuran dilakukan.
From Picasa blog

Wellsite Geologist Data & Report
Baik pemboran sedang berlangsung atau tidak, maka seorang wellsite geologist harus tetap membuat DAILY GEOLOGICAL REPORT (DGR). Jika pemboran sedang berlangsung, maka isi DGR akan lebih komplit disertai dengan data yang dilengkapi dari mud logging, selain itu, harus membuat WELLSITE LITHOLOGY LOG dan Directional survey calculation, horizontal & vertical well path plot. Sedangkan data2 dari mud logging dan MWD/LWD juga harus disertakan untuk dilaporkan setiap harinya.
From Picasa blog
Begitupun saat wireline logging dilakukan, seorang wellsite geologist harus melaporkan kepada Operation Geologist data2 dan report berupa:
1. LOGGING OPERATION SUMMARY
2. FORMATION PRESSURE TEST DATA
3. FLUID DOWNHOLE SAMPLING DATA
4. FLUID SURFACE SAMPLING DATA
5. SIDEWALL CORE DESCRIPTION

Itulah sekelumit hal mengenai sistim pendataan dan pelaporan di suatu sumur eksplorasi. Ingat...! Kepentingan sumur eksplorasi bagi geology adalah mendapatkan data sebanyak-banyaknya, lengkap dan akurat. Mendapatkan hydrocarbon atau air adalah soal lain.

Saya sedang menyusun contoh-contoh dari semua jenis laporan tersebut diatas; sehingga rekan2 dapat mengunduhnya. Semoga dapat saya selesaikan dalam waktu dekat. Mohon kritik dan saran dapat disampaika ke email saya.

Salam,
Sad Agus Praptiono

Published with Blogger-droid v1.7.4

posted from Bloggeroid

Saturday, May 14, 2011

DGR (Daily Geological Report)

Kali ini, Aku sengaja mau bahas salah satu laporan yang tiap hari dikerjakan sama seorang wellsite geologist selama operasi pemboran berjalan; alasannya, karena hal ini sifatnya mendasar dan wajib dilaporkan oleh  seorang wellsite geologist yang berada di anjungan pemboran mulai spud well sampai TD well. Dari laporan inilah seorang operation geologist, dapat mengumpulkan data pemboran untuk pembuatan laporan akhir sumur (End of well report); selain ada sumber data lainnya.
From Picasa blog

DGR pada dasarnya dapat dibagi menjadi beberapa bagian (section) yaitu mencakup (1) Well information, (2) Drilling & geology operation, (3) Drilling data (Drilling & Fluid Parameter, Directional Survey data), (4) Geology information (Lithology Section, Gas data, Oil Show, Preliminary Formation Tops) dan (5) Remarks.


1. Well Information
Pada bagian ini akan mencantumkan informasi sumur baik yg sifatnya umum maupun khusus, yg terpenting adalah:

  • Report No, Date
  • Well Name
  • Field Name
  • Location
  • Latitude & Longitude (Northing & Easting0
  • Well Status
  • Rig Name
  • Current Depth (06:00 am)
  • Previous depth & Midnight Depth
  • RKB Elevation
Adapun jika ada tambahan lain pada bagian ini boleh2 saja dicantumkan, seperti mungkin AFE number, TD Lithology, dan lain-lain.

2. Drilling & Geology Operation
Bagian ini merupakan bagian yg menceritakan kegiatan operasi pemboran dalam 24 jam terakhir, banyak istilah / singkatan yang dituangkan dalam isinya, seperti POOH (Pull out of hole), RIH (Run in hole), P/U (Pick up), R/D (rig down), R/U (rig up), MW (Mud Weight) dan banyak lagi lainnya, dimana istilah-istilah ini semua umumnya sudah dipahami oleh para pekerja di bidang pemboran minyak. Operasi pemboran yg berjalan dalam 24 jam terakhir, ditulis dalam bagian ini berikut dengan periode waktu detailnya, misalnya: 07:30 - 08:15 - MWD tool surface test, OK. Adapula beberapa operation geologist tidak menginginkan detail waktunya, melainkan hanya urutan operasi nya saja. Jadi komponen dari bagian ini adalah sbb:
  • Operation Summary Last 24 hrs (00:00 - 24:00) - yaitu laporan detail operasi pemboran selama 24 jam terakhir mulai dari tengah malam kemarin sampai tengah malam hari ini.
  • Operation Summary last 6 hrs (00:00 - 06:00) - yaitu laporan detail operasi pemboran selama 6 jam terkahir dimulai dari tengah malam sampai jam enam pagi (DGR ini dikirimkan).
Tanggung jawab seorang wellsite geologist adalah melakukan check lagi dan menyesuaikan isi bagian laporan ini dengan laporan dari drilling supervisor (company man); sehingga tidak terjadi perbedaan yg pokok dari departemen pemboran (drilling dept) dg departemen geologi (G & G dept).

3. Drilling Data
Drilling data adalah bagian yg tidak terpisahkan dalam DGR, hanya saja dibagian ini sebetulnya adalah ringkasan data pemboran yang ada saat pemboran berjalan, data - data ini meliputi:
  • Drilling Parameter: WOB, RPM, Pump Rate (GPM), SPP, ROP average.
  • Drilling fluid (mud) data: MW, VIS, Filtrate, pH, PV/YP, Cl.
  • Directional Survey data: MD, Inclination, Azimuth, TVD RT, TVD SS, Northing, Easting, DLS.
Data-data dan parameter diatas bisa saja dimodifikasi menyesuaikan kebutuhan dari seorang operation geologist, jadi wellsite geologist dapat mengisi bagian ini berdasarkan informasi dari seorang mud logger, mud engineer dan MWD surveyor atau Directional Driller. Tanggung jawab seorang wellsite geologist adalah melakukan check ulang data-data ini, apakah sudah benar dan sesuai? adakah kesalahan ketik? adakah salah perhitungan?
4. Geology Information
Geology information adalah bagian laporan yg terpenting dalam suatu DGR (daily geological report), karena dibagian inilah dapat dilihat / dinilai kwalitas seorang wellsite geologist. Bagian ini merupakan ringkasan geologi dari suatu sumur yang sudah dibor. Informasi yang dituangkan adalah:
  • Lithology Description: yaitu bagian pemisahan interval kedalaman lithology berdasarkan dari formasi batuan yang dominan, misalnya bagian Sandstone yg sisipan Shale, Coal, dilengkapi dengan dengan deskripsi detail satuan batuan nya. Pemisahan interval ini, bisa juga dilihat dari background gas nya.
  • Gas Peaks: yaitu data pembacaan gas peaks saat drilling, baik itu drill gas, connection gas, swap gas disertai dengan background gas nya. Data gas yang ditampilkan yaitu terdiri dari pembacaan Total Gas, Chromatograph, CO2, H2S dan lithology pada kedalaman tertentu.
  • Oil Shows: yaitu deskripsi oil shows hasil pengamatan dari drill cutting dibawah pengamatan UV box pada interval kedalaman tertentu.
  • Preliminary Formation Tops: adalah hasil interpretasi formation tops atau marker pada lithology log, mud log, gas log, yang dikorelasikan dengan data offset wells. Data yang ditampilkan haruslah sudah dihitung dengan kedalaman actual TVDSS, sehingga dapat dibandingkan dengan kedalaman proposed TVDSS. Tiap formation tops dapat diberi catatan alasan kenapa ditarik formation tops tersebut.
5. Remarks
Banyak para wellsite geologist yang mengabaikan bagian remarks ini, walaupun banyak yang dapat dicantumkan dalam bagian remarks ini, misalnya saja pada kedalaman berapa saja spot sample telah diambil, adanya hal-hal yang perlu dijelaskan yang tidak dapat dicantumkan dalam bagian diatas.
From Picasa blog
Itulah sedikit catatan dan tambahan tentang apa yang perlu dilakukan oleh seorang wellsite geologist, mudah-mudahan bermanfaat.

Salam,
Sad Agus
Wellsite Geologist Consultant
Jakarta, Indonesia