Saturday, September 28, 2013

Dasar Penggunaan Log dalam Analisa Fasies

Blog ini saya tulis saat saya masih menikmati "days off" (waktu libur) saya, ditengah-tengah sayup-sayup musik dangdut sekitar dari tayangan layar tancep di kampung sebelah. Sementara itu, saya menyadari akan seringnya saya lupa akan dasar-dasar yang perlu saya pahami untuk analisa fasies. Kata-kata "analisa fasies", "interpretasi lingkungan pengendapan" dan "log motif" sering menakuti saya karena terdengar seperti sangat sulit dan jelimet. Maka saya coba baca-baca buku geologi dan laporan-laporan dari beberapa pekerjaan "Formation Evaluation Log" yang pernah saya buat. Baiklah saya mulai saja ya…
From Picasa blog
Apabila kita meneliti stratigrafi atau urutan vertikal dari umur-sumur pemboran, baik itu lithostratigrafi ataupun biostratigrafi yang dapat dikorelasikan; maka log dari sumur-sumur tersebut dapat digunakan untuk menentukan fasies dan interpretasi lingkungan pengendapan dari suatu batuan reservoir, meliputi Perkirakan bentuk geometri dan orientasi nya. Dari beberapa studi lingkungan pengendapan modern yang ada memperlihatkan adanya ciri-khas tertentu dari ukuran butir profil vertikal; sebagai contoh jika endapan channel seringkali menghalus keatas (fining upward), mulai dari bawah dengan endapan "basal" konglomerat menerus keatas menjadi pasir, lanau dan lempung. Sebaliknya, delta progradasi dan endapan "barrier island" sering-kali menunjukkan profil vertikal yang semakin kasar keatas (coarsening upward). Sehingga dari profil vertikal ukuran butir (grain size profile) dapat digunakan sebagai analisa fasies, yang mana ini dapat dilihat indikasi nya pada log SP dan/atau log Gamma Ray.
Log SP banyak dikontrol oleh sifat permeabelitas suatu batuan, dimana semakin permeabel akan mempunyai defleksi kekiri atau lebih kecil, dengan kata lain semakin permeabel maka ukuran butir semakin besar. Sama halnya juga dengan log Gamma Ray, dimana kandungan mineral lempung (yang kaya unsur radioaktif) dari suatu endapan menunjukkan adanya halusnya ukuran butir. Pengecualian dari hal ini adalah adanya endapan lempung dengan fragmen konglomerat atau hadirnya mineral radioaktif seperti Glauconite, Mica dan Zircon (Rider, 1990).
Bentuk motif log SP dan Gamma Ray, pada dasarnya dapat dibagi menjadi 3 bentuk dasar yaitu:

  1. Bell Motif (Motif Lonceng / Bel), yaitu endapan pasir yang menghalus keatas dengan bagian dasar yg tajam.
  2. Funnel Motif (Motif Corong), yaitu endapan pasir yang mengasar keatas dengan bentuk tajam diatas. 
  3. Blocky Motif (Motif blok), yaitu endapan pasir bersih dengan bagian tajam pada batas atas dan bawahnya.

Variasi dari ketiga pola tersebut bisa saja terlihat halus atau kasar dan tidak ada motif log yang baku untuk satu pengendapan tertentu, tapi dengan menggabungkan dari beberapa analisa profil log-log tersebut maka dapat dilakukan interpretasi lingkungan pengendapannya, tentunya dengan memperhatikan kandungan mineral Glauconite, shell debris, carbonaceous material dan mineral mica.
Mineral Glauconite terbentuk selama proses diagenesis awal dari suatu dengapan / sedimen laut dangkal (shallow marine), begitu mereka terbentuk maka akan bersifat stabil pada lingkungan tersebut, tapi dapat juga terbawa ke arah pantai atau kearah kipas-kipas laut dalam (deepsea fans). Bagaimanapun, adanya mineral Glauconite menandakan endapan dari lingkungan laut. Sedangkan shell-shell keras pada suatu endapan menandakan dari lingkungan dari air tawar atau air laut, tapi shell-shell yang berpasir atau berasosiasi pasir cenderung dari lingkungan air laut. Sebetulnya kita dapat lebih jauh meneliti fossil-fossil dari lingkungan laut dengan lebih jelas. Kandungan "carbonaceous" seperti Coal, fragmen tumbuhan dan kerogen, biasanya berasal dari lingkungan darat ataupun laut, namun begitu kandungan organik yang terawetkan biasanya menandakan pengendapan yang cepat, dengan adanya mineral-mineral "reworked" dan tanda-tanda oksidasi. Sama halnya, kehadiran mineral Mica menandakan pengendapan yang cepat baik lingkungan darat maupun lingkungan laut.
Keempat kandungan tersebut (Glauconite, Shell fragmen, Carbonaceous material, dan Mica) biasanya dicatat dalam deskripsi serbuk bor dalam suatu pemboran oleh seorang wellsite geologist. Dengan mempelajari beberapa motif-motif log dengan mempertimbangkan keempat kandungan yang sudah dibicarakan diatas, akan banyak sekali membantu dalam menganalisa dan meperkirakan bentuk geometri dan trend reservoir (Lihat gambar dibawah).

From Picasa blog

Sebetulnya teknik analisa ini diperkenalkan oleh Selley (1976). Idealnya analisa fasies didasarkan pada sedimentologi dan analisa core (inti batuan). Gambar dibawah ini menunjukkan integrasi dari beberapa log dan data batuan, sebetulnya contoh-contoh didalam endapan modern delta Mahakam sudah banyak sekali dipelajari oleh beberapa ahli geologi Indonesia ataupun perusahaan - perusahaan minyak dan gas bumi (Pertamina, Total, Chevron - dulu Unocal, dll).

From Picasa blog

From Picasa blog
Analisa fasies akan semakin mudah dilakukan jika profil ukuran butir digabungkan dengan gambaran struktur sedimen dari alat logging "image". Yang kemudian orientasi struktur sedimen, misalnya cross bedding dapat digunakan untuk menentukan arah arus purba dan tentu saja arah pelamparan lapisan reservoir.

Daftar Pustaka:

  • Elements of Petroleum Geology, Second Edition, (Richard C. Selley, 1998)
  • Geological Applications of Wireline Log (Hurst A, Lovell M, Moreton A C, 1990)


Semoga bermanfaat,
Sad Agus Wellsite Geologist Consultant
(Mendekati usia pensiun).
Akhir September, 2013.